Langsung ke konten utama

Tehawol

“Tehawol.” Begitu terbaca di status WA kerabat. Saya mafhum maksudnya. Pasti dia kecapekan membersihkan debu vulkanik pasca-erupsinya Gunung Anak Krakatau yang dikirimkan angin ke mana-mana. “Ya, susah kalau mau menyalahkan angin,” kata Prabowo menanggapi argumen Anies Baswedan perihal polusi udara saat debat kandidat presiden.

Ya, “angin tidak punya KTP,” kata netizen. Karena itu, bisa dikatakan angin nomaden, berpindah-pindah arah ke mana hendak bertiup. “Angin tidak punya paspor,” sahut yang lain. Karena itu, leluasa saja angin masuk negara jiran tetangga membawa jerebu dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang bikin tetangga kuesel bianget.

Langit belum biru benar 

Tidak keliru ungkapan “angin tidak punya KTP atau paspor” dan bebas bergerak ke mana pun karena angin bergerak atas kendali Allah SWT sebagai bukti kebesaran-Nya. Firman-Nya, “Allah lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki.” (Q.S. Ar-Rum : 48)

Tehawol dalam bahasa Lampung artinya capek berat. Saking capeknya sampai-sampai terasa seperti kehabisan tenaga, bernapas pun sengal. Begitulah yang dirasakan hampir semua orang yang rumahnya terpapar debu vulkanik akibat meletus atau erupsinya Gunung Anak Krakatau yang mulai muncul hari Sabtu wayah magrib.

Erupsinya Gunung Anak Krakatau dimulai sejak hari Jumat (4/9/2026) pukul 23:07 dan intensitas letusan Sabtu (5/9/2029) pukul 00:01 hingga pagi. Debu vulkanik setinggi 50 ribu kaki berguguran wayah magrib Sabtu. Minggu pagi warga mulai disibukkan urusan menyingkirkan debu dari lantai teras, mobi di jalan depan rumah, dan furniture.

Termasuk kerabat yang bikin status WA “tehawol” itu tentunya. Membersihkan debu vulkanik yang mengotori rumah besar dua lantai mereka niscaya bikin capek berat. Hari Minggu kemarin mereka libur dari tugas rutin sebagai ASN, maka bisa kerja keras beberes debu hingga merasa tehawol dan dijadikan status. Lumayan dapat bahan status.

Pagi iki dino Seloso (8/9/2026) beberes mudah-mudahan untuk yang terakhir. Langit kendati belum biru benar, tapi sudah sedikit cerah. Masih dikelambui warna putih, tapi bukan awan. Antara sisa-sisa debu vulkanik atau jerebu dari karhutla. Agak tanda tanya, benarkah kebakaran karena titik api atau sengaja dibakar untuk buka lahan baru?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...