Langsung ke konten utama

Calon Buku Lagi

Setelah dua puisi mengendap lama di laptop, sabar menunggu satu puisi tambahan yang bolak-balik disunting ulang, bahkan dibongkar pasang demi menjadi puisi yang sempurna, akhirnya di enam hari jelang deadline, pukul 10:41 tadi, tiga puisi meluncur ke surel “puisi kebangsaan” milik SBP (Sastra Bulan Purnama) Jogja berkolaborasi dengan STPMD.

Karena memakai chat both, seketika puisi terkirim ke surel SBP, seketika itu juga masuk balasan bahwa puisi yang saya kirim telah diterima. Akun WhatsApp bisnis memang jamak menggunakan chat both untuk tujuan membalas pesan secara otomatis. Hal itu dilakukan demi terjalinnya interaksi dan komunikasi dua arah yang cepat. Hanya saja dilakukan oleh mesin pintar.

Antologi Puisi "Kata Kota Kita" untuk merayakan HUT ke-15 Sastra Bulan Purnama Jogja. Buku akan diluncurkan nanti 17 Oktober 2026.

Kendatipun komunikasi dua arah yang dibantu oleh mesin pintar, layak belaka dan bukanlah sesuatu yang tabu. Sebab, di era digital dan serba instan, kecepatan dalam sebuah interaksi dan komunikasi sangatlah diperlukan. Karena itu, penggunaan chat both sebagai asisten pribadi dalam menjalankan bisnis sudah biasa dilakukan mereka yang sangat menghargai waktu.

Mengarang puisi bertema Politik Indonesia yang amat membagongkan ini, cukup melihat dinamika di kisaran kurun waktu 15 tahun belakangan saja, tidak usah jauh-jauh ke masa orde lama, orde baru, dan orde reformasi. Sejak masa Jokowi jadi presiden, arah politik Indonesia dipelintir dari demokrasi terbuka dalam arti bisa bebas bersuara menjadi suara yang dibungkam pakai UU ITE.

Dewan Perwakilan Rakyat yang kebanyakan berijazah SMP/SMA, apakah betul-betul menjalankan tiga fungsi utamanya (legislasi, anggaran, dan pengawasan)? Mungkin iya, mungkin tidak. Yang mereka hasilkan dari sidang ke sidang, oleh rakyat dirasa sepertinya mandat mereka tidak menghasilkan kebijakan atau keputusan yang mengakomodasi kepentingan rakyat banyak.

Tiga puisi yang saya karang dan kirimkan ke surel SBP, memotret persoalan makan dan buang hajat (nasi dan tahi). Sesungguhnya yang dipikirkan manusia, untuk memenuhi kebutuhan makan itu mereka mesti bekerja. Sementara negara tidak membuka lapangan pekerjaan secara terbuka, tetapi yang dibuka dapur umum untuk menyediakan makanan bergizi gratis (berakhir ke tahi).

Iya, betul pembukaan usaha SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) bisa dikatakan membuka lapangan kerja, tapi yang dipekerjakan direkrut dari orang dekat pengusaha SPPG dan konco atau kroni mereka sendiri. Menunjukkan bahwa politik berkelindan di setiap napas politisi dan koncoisasi, dapur MBG yang mereka buka, kelola, diusahakan dengan bumbu serta intrik politik.

Saya potret melalui puisi kedua adalah nasib orang miskin tidak pernah didandani jadi lebih baik. Sebab, bila orang miskin berubah nasib, kepada siapa lagi politisi bisa mengasong janji. Sekalipun isi janjinya itu menarik, bila orang miskin naik kelas, politisi tak bakal terpilih lagi. Politisi menciptakan lelucon agar orang miskin terhibur. Joget gemoy lebih disenangi pemuja.

Puisi ketiga memotret tentang "pemimpin yang buruk." Pemilu yang direkayasa. Franklin D. Roosevelt pernah berkata, "Dalam politik, tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan. Jika itu terjadi, Anda bisa bertaruh hal itu memang direncanakan." Begitulah fakta yang terjadi, kemenangan pemimpin melalui pemilu curang (direkayasa) menghasilkan pemimpin yang buruk.

Itulah tiga puisi bertema "Politik Indonesia" yang saya ikutkan dalam kurasi terbuka yang ditaja SBP untuk diterbitkan dalam antologi puisi dalam rangka dies natalis STPMD "APMD" dan diluncurkan nanti bulan November 2026. Itulah calon buku ketiga bersama SBP. Pertama, "Kitab Omon-Omon", kedua, "Kata Kota Kita", dan ketiga entah nanti apa judul yang akan dipasang.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...