Kemarin (15/9), seperti tertera dalam flyer adalah hari pengumuman even menulis puisi "Penghargaan Sastra Udo Z Karzi 2026" tapi tidak ada tanda-tandanya, misal notif di layar gawai. Saya masuk ke facebook, eh... muncul langsung. Ada 5 grafis yang 1 berisi maklumat "Inilah Puisi Nomine dan Pilihan." Tapi, tak ada daftar puisi nomine, hanya ada daftar puisi pilihan dalam 4 grafis masing-masing berisi 15 puisi dan penulisnya. Saya pindah ke Instagram karena penasaran, sayangnya di akun IG Udo Z Karzi tak ada. Rupanya dihapus oleh Meta. Karena masuk waktu magrib, saya siap-siap ke masjid, tapi ada notif masuk. Udo Z Karzi mengirim tautan IG yang dihapus Meta itu. Tidak langsung saya buka tapi saya tinggal dulu ke masjid. Pulang dari masjid baru saya buka. Ada 6 grafis, di sini baru muncul daftar nomine yang mencantumkan nama saya sebagai salah satu dari 10 nama.
"Nerima nihan, Udo" balas saya ke WhatsApp Udo Z Karzi. Dibalasnya "jejama" dan ia tanya apakah IG-nya bisa dibuka? "Gak bisa," jawab saya. Entah apa pasal postingan di platform IG Udo Z Karzi bisa hilang, mungkin dihilangkan oleh pengelola platform milik Meta dengan alasan melanggar pedoman komunitas. Apa yang terjadi pada IG Udo Z Karzi ini mengingatkan saya pada postingan facebook komunitas Dari Negeri Poci yang berisi pengumuman puisi lolos kurasi bertema "mozaik" yang oleh Meta atau siapalah (susah menunjuknya) nama-nama yang tercantum di daftar itu ditengarai sebagai anggota atau pemain judi online (judol). Begitukah cara kerja algoritma membacanya? Akal Imitasi (Artificial Intellegence) tentu beda dengan akal pikiran manusia pada umumnya.
![]() |
| Daftar Puisi Nomine |
Puisi tentang toponimi Lampung Barat. Begitulah tema yang diusung even "Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut Jak Udo Z Karzi 2026) itu. Kendati bagi saya Lampung Barat bukan dunia asing, akan tetapi bukan pula dunia yang saya pahami dari kulit luar hingga sumsum dalam tulang sulbinya. Apalagi toponimi bukan asal menyebut atau menuliskan nama tempat dalam puisi sebagai diksi pemanis, melainkan harus paham kegunaannya. Harus tahu jejak sejarah, mitos, legenda, dan misteri apa yang tersembunyi pada toponimi tersebut. Oleh karena itu, semula saya bengong berhari-hari. Ikut gak, ya, even ini. Gak ikut kok, ya, eman-eman. Bila hendak ikut even ini mesti memulai dari mana. Sampai akhirnya saya teringat kejadian ganjil di suatu senja jelang magrib di tengah Danau Ranau hampir setengah abad silam. "Nah, ini cerita yang layak ditulis," pikir saya.
Begitu kerak legenda yang ada di kepala, saya tulis di laptop, cerita pun mengalir bagai air di lampai (saluran irigasi) yang semula tersumbat dibuka. Deras menyerbu petak-petak sawah yang kehausan. Cerita tentang gelintang (kulitang) di kala dibi yang saya dengar di Danau Ranau di antara pertemuan senja dan magrib, rupanya bukan gelintang biasa, melainkan gelintang yang bunyinya melangit dari dunia lain. Begitulah Gunung Pesagi, sebagai cikal bakal Kepaksian Sekala Brak, menyimpan misteri yang berkembang menjadi warahan (cerita) yang bercabang-cabang sesuai masa kapan ia diceritakan dan siapa yang menceritakan. Hal itu yang membuat Tanoh Sekala Brak seperti punya sihir, menarik untuk digali toponimi yang ada di dalamnya dan layak dibukukan. Paling tidak mulai dari menuliskan melalui puisi dalam even "Penghargaan Sastra Udo Z Karzi" ini.

Komentar
Posting Komentar