Langsung ke konten utama

Memuliakan Tamu

Tidak jadi saya mengikuti zoom penyerahan penghargaan Hadiah Sastera Rancage yang flyer-nya dikirim Udo Z Karzi via WhatsApp pukul 09:25. Cemana bisa, saya kedatangan tamu yang katanya kangen hendak ngobrol dengan saya. Sementara zoom mulai pukul 09:00 dan pesan WhatsApp Udo Z Karzi masuk pukul 09:25, sudah kadung telat hampir setengah jam berjalan.

Ya, sudahlah, tak usah ikut, tak apa-apa. Yang lebih utama memuliakan tamu yang datang dari jauh dan semalam memang sudah memberi tahu hendak bertandang ke rumah hari ini. Saya pun sudah mengonfirmasi kalau saya ada terus di rumah. Belum ada niat pergi ke mana-mana. Sedang butuh waktu untuk istirahat meluruhkan lelah, sehabis perjalanan jauh ke Cirebon.

Gambar ss Instagram FISIP Care Center | Departemen Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa BEM FISIP Unpad 2026 |

Rabu (23/9) banyak momen, banyak peristiwa. Momen mengikuti zoom bertabrakan dengan momen mengobrol dengan tamu. Peristiwa equinox tahun ini jatuh pada hari ini. Tanggal 23/9 diperingati sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026. Bahasa isyarat bukan sekadar alat bantu komunikasi, melainkan bagian dari identitas dan budaya teman kita yang tunarungu yang patut dihormati.

Dengan bantuan bahasa isyarat, teman-teman kita yang tunarungu dapat menonton televisi, mengerti apa yang disampaikan pembawa acara atau para pihak tertentu yang sedang melakukan konferensi pers. Sedikit banyak teman-teman kita yang tunarungu itu dapat bertambah pengetahuannya tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dan disiarkan dalam berita televisi.

Tentang equinox, adalah peristiwa astronomi, terjadinya matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa (melintasi garis khatulistiwa). Equinox terjadi dua kali dalam setahun. Peristiwa pertama telah terjadi pada 20 Maret lalu pada pukul 14:46 UTC atau 07:46 WIB. Sedangkan peristiwa kedua terjadi hari ini, 23 September pada pukul 00:05 UTC atau 07:05 WIB.

Hingga kumandang azan Zuhur baru tamu pamit pulang. Banyak cerita menarik, sedikit absurd, dan menggelikan meluncur dari mulutnya yang menahan untuk tidak merokok. Kendati sudah saya siapkan asbak, ia merasa enggan kepada tuan rumah yang tidak merokok. Setelah saya persilakan berkali-kali, akhirnya ia sulut satu batang rokok dan menikmatinya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...