Langsung ke konten utama

Mengenang Kengerian

Tadi saya dan istri lewat depan bekas kantor LE Jl. Diponegoro, Kupang Teba. Saya pikir masih kosong tak berguna, ternyata difungsikan jadi markas Badan Gizi Nasional (BGN) entah milik siapa.

Di gedung berdinding kaca gelap dan sekat-sekat kaca, itulah dulu (tahun 2000) saya terbirit-birit lari dari lantai 3 turun ke bawah dan keluar dari gedung karena digoda makhluk astral penunggu gedung itu.

Sepertinya makhluk astral di situ tak senang tempat tinggal mereka dikotori dengan gerakan dan bacaan salat. Mereka pengin tempat itu suci sebagaimana mereka tinggal di kegelapan, bebas dari ruh islami.

Karena selesai kerja malam saya salat lalu berebah tidur, pagi baru pulang ke rumah di BKP. Pikir si makhluk astral di situ, "Ini siapa berani-beraninya tidur di sini, digodain dulu, ah." Ya, takutlah saya.

Tadi sambil lewat saya sempatkan menoleh, lho jadi markas BGN rupanya. Untuk membatasi akses orang yang tidak berkepentingan, dipasang pagar seng di halamannya. Khusus karyawan yang boleh masuk.

SPPG atau dapur MBG mana pun, selalu ada tulisan sakral itu. Selain karyawan tidak boleh ada yang masuk tanpa izin. Kantor atau proyek plat merah memang begitu aturannya. Tak bisa leluasa masuk.

Saya hanya bisa menoleh saja, tak berani memotret. Ya, untuk mengenang kengerian yang pernah saya alami berpuluh tahun silam. Kerak sejarah atau debu zaman saat berkutat perjuangan membeku di kepala.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...