Dua naskah saya siapkan untuk even yang ditaja komunitas sastra jejak perjalanan jiwa (JPJ) Purbalingga. Satu puisi satu cerpen 500 kata. Sebenarnya saya menyimpan naskah calon buku yang isinya 50 sub judul cerpen 500 kata. Entah kapanlah bisa menerbitkannya. Menunggu hari baik, sepertinya semua hari baik deh. Memutuskan ikut even JPJ ini juga mendadak. Tadinya tak begitu serius pengin ikut, tapi setelah di-mention admin JPJ yang mengingatkan deadline-nya tinggal dua hari lagi jelang 30 September, maka saya tulis dahulu puisi dan mengirimkannya, lalu setelah melihat pengirim cerpen amat sedikit, saya kok tiba-tiba pengin ikut juga buat ngeramein, lalu saya tulis cerpen 500 kata dan mengirimkannya sebagai susulan. Semua naskah disertai foto puspa sebagai pelengkap.
Pada 30
September 1965 (di masa lampau) ada upaya kudeta terhadap pemerintahan Soekarno (hanya
nama presiden saja mewakili pemerintahan RI karena Wakil Presiden Bung Hatta sudah
mengundurkan diri pada tahun 1956) oleh PKI yang dipimpin DN Aidit (Ketua PKI)
dan dikomandoi Letkol Untung Syamsuri dari pasukan Cakrabirawa. Peristiwa itu
menjadi tragedi kelam dalam sejarah Indonesia. Tujuan gerakan 30 September itu
hendak menggulingkan pemerintahan presiden Soekarno dan mengubah ideologi
Pancasila menjadi komunis. Gerakan pada malam 1 Oktober itu menewaskan sejumlah
perwira tinggi TNI Angkatan Darat dan seorang anggota kepolisian di Jakarta dan
Yogyakarta. Upaya kudeta oleh PKI tersebut kemudian disebut sebagai Gerakan 30 September
(G30S/PKI).
![]() |
| ilustrasinya ini saja, penampakan bulan (kesiangan) bersanding dengan matahari yang saya jepret saat hendak jogging tadi pagi. |
Malam
nanti akan digelar Sidang Pembuktian Gugatan Ijazah Gibran di gedung Mahkamah
Konstitusi. Secara iseng netizen mengaitkan G30S/PKI di tahun 1965 lampau
dengan G30S (G)ibran disidang sengketa terkait syarat pendidikan dan keabsahan
dokumen ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 30S(eptember). Ini
menarik, netizen (anak bangsa) memang cerdas-cerdas, selalu saja ada yang baru dari mereka. Boljug (boleh juga) G30S/PKI diplesetkan
menjadi G30S (G-nya Gibran, 30-nya tanggal 30, dan S-nya September. Sayangnya,
kecerdasan anak bangsa ini di mata presiden tidak tampak, justru itu presiden berkata GOBLOK saat berpidato dan selalu diulang-ulangnya. Entah apa
maksudnya. Sepertinya sengaja untuk mempertontonkan karakter buruk dirinya.

Komentar
Posting Komentar