Ini sebuah fakta bahwa duit bukan
segalanya. Sahdan, pada sebuah wilayah rukun tetangga mengadakan pemilihan ketua
RT. Kebetulan kedua calon baru sebab ketua RT lama meninggal dunia bulan Mei
lalu. Calon satunya (laki-laki) memang partner kerja ketua RT lama, sedangkan
calon satu lagi (perempuan) merupakan warga yang belum terlalu lama tinggal di
wilayah itu.
Ada 35 mata pilih yang terdaftar, hadir ke
TPS 34, sedangkan 1 pemilih berhalangan karena tak bisa meninggalkan pekerjaan. Sekira pukul
10:30 WIB atau 10:30 AM pemungutan suara dinyatakan ditutup setelah satu orang
yang ditunggu datang dan mencoblos tanda gambar. Penghitungan suara pun
dilakukan, hasilnya 25 suara untuk calon laki-laki, 9 suara untuk calon
perempuan.
![]() |
| Jejeran panitia berpose selesai acara |
Nah, letak fakta bahwa duit bukan segalanya adalah, salah satu warga situ yang merupakan besti istri tadi malam ke rumah, bercerita bahwa calon perempuan bikin “serangan fajar” dengan menyebar pesan WhatsApp minta warga kirim nomor rekening bank, si calon perempuan lalu mentransfer duit yang bergambar dwitunggal proklamator kemerdekaan RI via m-banking.
Si calon perempuan itu bergelar S.E., M.M.
punya travel umrah. Feeling saya membaca nyalon jadi ketua RT sepertinya buat
batu loncatan untuk bisa nyaleg di 2029. Ketua RT membuatnya punya link di
samping dekat dengan warga sendiri, ke depan jaringan bisa meluas dekat dengan
warga lain di luar RT, skup lebih luas ke tingkat kelurahan dan kecamatan sebagai
daerah pemilihan (dapil).
Itu cuma pembacaan feeling saya doang. Benar
atau tidak terpulang kepada yang bersangkutan. Bisa jadi mustahil, tapi naburin
duit biar menang jadi ketua RT saja dia bisa apalagi demi menang nyaleg, kan begitu
logikanya. Akan tetapi feeling warga mungkin membaca dengan pengertian lain
sehingga lebih condong memberikan suara mereka kepada partner kerja ketua RT
lama.

Komentar
Posting Komentar