Langsung ke konten utama

Gak Hilang, Baguslah

Nah, akhirnya sampai juga pada tanggal 15 September 2026 (2 hari yang lalu), seperti tertera di flyer kegiatan lomba cipta puisi bertema “Toponimi Lampung Barat” dalam ajang “Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut jak Udo Z Karzi 2026), penerimaan naskah puisi adalah 21 Juni – 31 Agusus 2026. Pengumuman hasil kurasi 15 Sepetmber 2026. Dua hari yang lalu, “Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut jak Udo Z Karzi 2026)" ini berisi 10 puisi nominasi dan 60 puisi pilihan. 70 puisi ini hasil seleksi ketat yang dilakukan kurator tunggal, yaitu Udo Z Karzi, terhadap 116 puisi yang masuk di periode itu.

Pengumuman puisi nomine dan puisi pilihan ini dalam bentuk grafis dipublikasikan Udo Z Karzi di Instagram yang juga tertaut ke facebook-nya. Di facebook bisa dilihat dan dibaca sedangkan di Instagram-nya hilang (dihilangkan) entah karena apa. Udo Z Karzi mengirim grafis pengumuman itu ke WA saya berikut tautan Instagram-nya seraya menanyakan apakah saya bisa membukanya. Saya coba buka tautan IG, tapi cuma muncul logo gembok dan tulisan, “Maaf, halaman ini tidak tersedia. Tautan yang Anda ikuti mungkin telah rusak, atau halaman telah dihapus.”

Gambar gembok penanda postingan hilang 

Pagi tadi saya coba posting grafis pengumuman itu ke Instagram saya dengan kapsi bahasa Inggris agar pihak pengelola platform Instagram paham bahwa itu cuma tentang puisi, bukan judi. Sampai malam ini tadi, saya perhatikan, postingan grafis pengumuman puisi nomine dan puisi pilihan di Instagram masih ada, tak dihapus (dihilangkan), tapi dibatasi untuk bisa diakses di Indonesia. Mungkin tidak terlihat oleh pengikut saya sehingga yang memberi like cuma sedikit. Atau terlihat pun oleh mereka, tapi kalau mereka ogah memencet tanda hati, jumlah like itu tak bertambah.

Notifikasi dari Instagram 

Tapi, bagi saya postingan di Instagram gak hilang sudah cukup baguslah. Saya buka notifikasi yang muncul, terbaca tulisan, “Foto Anda tidak tersedia di Indonesia. Mengapa hal ini terjadi, karena persyaratan hukum, kami harus membatasi akses ke foto Anda. Persyaratan ini didasarkan pada hukum setempat tentang perjudian.” Apakah di luar Indonesia foto atau postingan di Instagram itu tersedia? Agak susah menjawabnya. Mesti ke luar negeri dulu dong. Cuma sekadar buat memastikan ada tidaknya. Alangkah nemennyo, Wak! Berat di ongkos dong. Butuh paspor segala.

Agak sulit saya memahami persoalan pembatasan akses seperti itu. Siapa yang punya gawe juga susah menunjuknya. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) memang gencar betul memberantas judi online (judol), tapi sepertinya cara kerja mereka main hantam kromo. Main take down video tanpa memperhatikan secara cermat apa isinya. Kalau memang terindikasi iklan judol dan video pornografi, tentu suatu keharusan men-take down-nya. Kalau konten berupa pengumuman daftar penyair yang puisinya lolos kurasi, jangan diendus sebagai daftar pemain judol dong.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...