Langsung ke konten utama

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy.

Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak.

Ada postingan di blog ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit, bebet, bobot. Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan bobot menyangkut kepribadian dan pendidikan. Ketiganya pada dasarnya adalah falsafah Jawa yang masih dipakai turun temurun dari dulu hingga kini.

Apakah ketiganya masih relevan di zaman now? Di era digital sekarang, bisa jadi, orang lebih mengedepankan perspektif mengenai kriteria pasangan. Kedua pihak, baik calon pasangan maupun keluarga bisa membuat simpul keselarasan yang disatukan dari perbedaan-perbedaan yang tidak begitu prinsip. Kecuali masalah akidah sebaiknya tidak boleh ada tawar menawar.

Berbicara masalah kepribadian tak ayal akan terkait dengan suku. Pada suku-suku tertentu secara kultural memiliki kepribadian yang sifatnya unik dan tak mudah dipahami. Misal, sifat keras kepala dan pemberontak, pembangkang dan sulit diatur. Atau sebaliknya, lemah lembut, rendah hati, ramah dan supel dan sebagainya.

Kepribadian sama dengan jati diri. Masing-masing suku memiliki kepribadian yang melekat sebagai jati diri. Apa yang membuat suku tertentu memiliki kepribadian tertentu? Faktor demografi dan adat istiadat yang hidup dan berkembang jadi jati diri secara turun temurun, sejak leluhur hingga keturunan yang tidak terputus.

Perkawinan campuran menjadi medium perubahan mendasar atas karakter yang melekat pada seseorang menjadi cair dan lentur. Perbedaan karakter yang diwariskan orang tua mereka terurai menjadi karakter bawaan. Dalam dunia pendidikan, karakter bawaan itu ditempa didikan guru, mengarahkannya agar menjadi karakter ideal, sempurna atau mendekati sempurna.

Apa yang dilakukan guru tidak mutlak berhasil. Ketemu individu yang dari sononya bandel, dengan pendekatan bagaimana pun menempa karakter bawaannya, belum tentu berhasil. Karakter itu nama lain dari watak. Watak kalau sakit tidak bisa diobati. Lain halnya dengan watuk (batuk, bhs. Jawa) bisa dicarikan obatnya di apotek atau warung tetangga. Obatnya bermacam-macam, tinggal pilih mau yang berupa tablet atau yang sirup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...