Seperti sudah saya prediksi di cerita kemarin, bahwa Senin jalan tertentu di Jakarta dibelit kemacetan parah. Begitulah yang terjadi tadi di jalan Hajjah Tuty Alawiyah, mengkhawatirkan bakal telat sampai Gambir. Beruntung bisa putar balik dan menyusuri jalan alternatif, tapi lepas dari sana dicegat macet lagi di jalan Mampang Prapatan. Dua titik itu krusial banget.
Begitulah Jakarta City. Tapi, sependek pengamatan saya, semacet-macetnya Jakarta, masih bisa dimengerti. Namanya juga Ibu kota. Macetnya Bandar Lampung pun (harus) bisa dimengerti karena jalan protokol di kota Tapis Berseri itu cuma sebentang jalan Z.A. Pagaralam. Jika sudah macet ga bisa ditolong. Mestinya ada jalan lingkar untuk keluar dari "lingkaran masalah."
![]() |
| Sekadar ilustrasi | salah satu sudut jalan di Ibu kota Jakarta |
Tapi, di samping tidak memungkinkan membuka jalan lingkar karena topografi kota Bandar Lampung yang sesak dengan permukiman padat, ongkos membebaskan lahan (kalau ada) tentu sangat besar. Belum biaya membangun jalan yang terdiri dari beberapa pos anggaran niscaya akan mahal banget. Walakin, mustahil ada jalan lingkar di kota Tapis Berseri itu.
Kendati sempat dag dig dug dihantui macet di dua titik jalan yang krusial, Alhamdulillah bisa sampai Gambir pukul 09:18. Langsung scan barcode tiket dan masuk ruang tunggu. Belum hangat tempat duduk sudah dipanggil untuk naik ke atas bus. Tepat pukul 10:00 bus yang hanya berpenumpang 10 orang diberangkatkan. Jalan tol Jakarta--Merak lancar.

Komentar
Posting Komentar