Subuh kemarin, sepulang dari masjid saya buka ponsel, satu kabar duka tersampaikan di grup WhatsApp warga. Ibu (atau mertua) dari warga RT kami meninggal dunia di Krui pada Kamis (17/9) sekira pukul 23-an. Kabar duka disampaikan Pak RT. Larik kalimat innalillahi wa inna ilaihi raji'un menyertai ucapan duka dan doa beruntun disampaikan anggota grup.
Duka
kedua, Bapak Sam Mukhtar Chaniago, dikabarkan meninggal di RS PON Jakarta pada
pukul 00:20. Kabar di-share Datuk Sri
Asrizal Nur, pimpinan Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS) yang juga
penggagas penerbitan kitab Talibun, kitab Puisi Etnik Nusantara, dan kitab
Pantun Majelis di grup WhatsApp “Partey
Penulis Puisi” pada pukul 01:25.
![]() |
| Anton Kurnia dan Sam Mukhtar Chaniago (gambar hasil olah Gemini ♊) |
Di
beberapa grup WhatsApp lainnya kabar duka kepulangan Bapak Sam Mukhtar Chaniago
diteruskan sekira pukul 06-an. Ada yang menge-tag nama Bapak Sam Mukhtar Chaniago karena beliau ada di dalam grup
WhatsApp tersebut. Mengingat Bapak Sam Mukhtar Chaniago terlibat di banyak kegiatan sastra dalam penerbitan buku antologi puisi
bersama.
Waktu
Festival Puisi Etnik Nusantara dan peluncuran bukunya diadakan di Kantor
Gubernur Jambi pada 20–21 Desember 2025, saya hadir dan bertemu dengan beliau dan penulis puisi etnik dari berbagai daerah Nusantara (serta
negara Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam) kecuali Aceh karena pasca-dihantam
musibah banjir bandang, mereka batal hadir.
Kemarin
siang paket buku “Kitab Pantun Majelis” dari sekretariat PERRUAS
di Depok saya terima. Dalam kitab ini, untuk kedua kalinya saya satu buku
dengan Bapak Sam Mukhtar, yaitu antologi “Puisi Etnik Nusantara” dan “Kitab
Pantun Majelis” ini. Entah, apakah Bapak Sam Mukhtar Chaniago sudah menerima
buku “Kitab Pantun Majelis” bagian miliknya atau belum.
![]() |
| "Antologi Puisi Etnik Nusantara" dan "Kitab Pantun Majelis", dua buku yang menyatukan karya saya dan Pak Sam Mukhtar Chaniago. |
Begitu
matahari lingsir ke ufuk barat, magrib baru saja usai, kabar duka ketiga
datang, terbaca juga di beberapa grup WhatsApp.
Anton Kurnia, penulis, penerjemah, dan mantan Ketua Komite Sastra Dewan
Kesenian Jakarta, berpulang pada pukul 17:15. Ucapan duka disampaikan oleh
orang-orang yang mengenal dan berteman baik serta intens berinteraksi
dengannya.
Bapak
Sam Mukhtar Chaniago dan Anton Kurnia wafat hari Jumat. Ada yang menganggap
wafat hari Jumat adalah salah satu tanda husnul khotimah. Siapa yang wafat
di hari Jumat akan terbebas dari azab kubur (fitnah kubur). Semoga saja
demikian adanya, Bapak Sam Mukhtar Chaniago dan Anton Kurnia berpulang ke
Rahmatullah dalam keadaan husnul khotimah.
Selalu saja ada “kabar penyair pergi” melintas di grup WhatsApp atau laman facebook komunitas penulis puisi, terasa seperti cemeti melecut pundak, seketika kembali tersadar bahwa kematian begitu dekat, mengintip setiap saat. Menegaskan bahwa yang dibawa bukan karya (antologi puisi), melainkan amalan baik. Itu yang akan menolong kita.


Komentar
Posting Komentar