Waktu istri sering ikutin kajian ummahat saban Senin di masjid Ad-Du'a, saya salat Dhuha di situ. Hari ini tadi saya 'safari jumat' di situ. Agak lupa apakah sebelumnya saya pernah jumatan di situ atau baru kali ini tadi. Tapi, waktu mendengar pengumuman saldo kas dan besaran perolehan infak jumatan, sepertinya baru tadi saya jumatan di situ.
Usai jumatan saya sengaja pengin mampir sejenak ke Transmart Lampung yang ada di Jalan Sultan Agung, Wayhalim. Kaget sekali gue, Bro. Lantai 1 dan 2 sudah dikosongkan, tinggal lantai dasar (bawah) yang masih diisi barang jualan berupa sepatu sandal dan pakaian. Ada juga sepeda listrik dan sepeda gowes. Gerai kopi kenangan, dan beberapa gerai makanan siap saji.
Pada postingan 29 Juli 2026 berjudul "BTC, Bukan BKTC" saya bercerita tentang Bambu Kuning Trade Center (BTC) yang kiosnya banyak kosong karena ditinggalkan pemilik atau penyewa. Toilet tak lagi mengucurkan air, tak ada lagi yang jaga menarik salar orang yang buang hajat. Penjaga portal parkir pun pesimis apalagi para pedagang di dalamnya.
"Entah sampai kapan akan begini," ujar si penjaga portal masuk area parkir lantai atas Bambu Kuning. Begitulah kenyataannya, bakal sampai kapan Bambu Kuning Trade Center dan Transmart bisa bertahan sebelum akhirnya tutup sama sekali. Sudah berapa Transmart tutup di berbagai kota di Indonesia. Akankah yang di Lampung menyusul? Tunggu saja.
Keliling sesapuan saya keluar dan beranjak pulang, tapi mampir juga ke MBK. Ada yang hendak saya beli, mulanya saya cari sendiri dengan panduan g-maps, ketemu tempatnya di lantai 1 los nomor sekian. Etapi... saya salah ngertiin lantai 1 dengan turun ke bawah. Gak tauny itu basement, naik lagi deh gue kembali ke lantai atas, lalu muter-muter maning.
Bagaimana tentang mal satu ini? Oh, MBK selalu ramai. Ini tempat orang ngadem. Entah belanja atau tidak, parkiran selalu penuh kendaraan pengunjung karena suasananya adem, cari apa pun hampir pasti ada. Dari makanan hingga fesyen. Sembako hingga properti rumah tangga ada. Apalagi pernak-pernik kosmetik, parfum buat gaya dan penampilan.
Mal, kota, dan kita yang tahan berpanas dan macet pada jalan yang itu-itu saja, demi sekadar ngadem, ngeceng, atau kencan pertama --tak mau tahu-- ke mana menuju dan di mana berhenti yang penting itu mal, niscaya bisa menunda rasa kesal. Mal, kota, dan kita mengisi ruang dan waktu demi satu perjalanan menemukan kesenangan hati dan kesehatan jiwa.
Komentar
Posting Komentar