Langsung ke konten utama

Alkesa

Kemarin saya ke Pasar Tani, nemu buah ini (lihat gambar). Merasa tertarik, saya tanya Bapak yang jual. Katanya, buah Alkesa. Tanya lagi, apa rasanya? Dijawabnya manis. Ada bijinya? Ada. Karena penampakannya seperti buah pepaya mini, sambil memilih saya cari pembanding biji itu dengan menanyakannya, kayak biji pepaya? Nggak, besar bijinya, kata si Bapak.

Setelah pilah pilih, saya timbang seberat 1 kg, dapat 5 buah. Rp10.000,00 saya serahkan dan diterima si Bapak penjual. Setelah dikupas 1 buah, memang manis rasanya, tapi susah mendeskripsikannya seperti buah apa. Tekstur dagingnya lembut seperti tepung yang diuleni ketika hendak membuat kue. Dan, bijinya ada 2 memang besar seperti biji durian.

Buah Alkesa yang saya beli di Pasar Tani kemarin, tinggal 3 dari 5 asalnya.

Dengan ukuran buah sebesar jambu kristal dan biji seperti biji durian, praktis membuat ketebalan dagingnya tidak seperti daging buah Alpukat. Nah, iya, ketika menyebut Alpukat di paragraf ini, imajinasi bekerja. Mencecap daging buah Alkesa ini teksturnya menyerupai buah Alpukat. Tapi, daging buah Alkesa pulen dan mempur kayak tepung yang diuleni tadi.

Yang terekam kamera hp tinggal 3 buah. Itu menandakan bahwa buah Alkesa ini enak. Tak terasa sudah 2 buah yang kami nikmati. Satu dikupas istri kemarin dan satu lagi pagi tadi, jadi pendamping buah pepaya dan kudapan sebagai teman ngopi. Waktu Bapak penjual menyebut namanya, telinga saya menangkap kata "alkisah" konfirmasi ke Google, ternyata Alkesa.

Pohon buah Alkesa (Pouteria campechiana) | gambar: Media Hobi dan Informasi 

Gambar di atas mengambil dari laman situs web "Media Hobi dan Informasi." Ternyata seperti itulah penampakan pohon buah Alkesa yang kata Bapak penjual asalnya dari daerah Batu Putu, Telukbetung Barat. Oh, ternyata dari daerah itu tak hanya air terjunnya yang bisa dinikmati, tapi juga ada buah Alkesa yang baru kali pertama saya jumpai dan mencicipinya.

Mengutip situs orami.co.id, Alkesa disebut juga sawo mentega atau sawo Belanda. Tak salah karena tercium aroma sawo. Buah Alkesa kaya niasin dan beta karotin. Kandungan karbohidratnya tinggi. Bermanfaat menjaga kesehatan mata, menambah energi dan memperkuat otot, meningkatkan kecerdasan dan menyehatkan otak, menangkal radikal bebas, mencegah risiko hipertensi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...