Setelah
status Gunung Anak Krakatau level 3 (siaga) diturunkan ke level 2 (waspada) dan
setelah pagi sore menyentor teras menyingkirkan paparan debu vulkanik, hari ini
nyeteam AC. Mekanik yang pekan lalu nyervis mesin cuci, sesuai janji hari ini
datang untuk mencuci blower dan AC
dalam kamar. Setelah selesai mencuci AC, sambil menikmati suguhan teh dan
kudapan, ia cerita kalau kemarin sore pamit mengundurkan diri dari tempat
bekerja. Itu ia lakukan setelah mendapat dorongan moril dari klien kemarin sore. Si klien melihat ia muram durja, lalu ditanya ada
masalah apa. Buka suaralah ia tentang HRD yang toxic. Bla bla bla... ia cerita.
“Sudah resign aja, itu mobil saya satu pake
aja mau usaha apa kamu,” kata Bapak kliennya itu mengekspresikan rasa kesal
dan emosi. Merasa dikasih pemasukan positif, si Bapak
mekanik langsung mengambil hp dan
ngetik pesan WhatsApp pamit mundur
dan mengirimnya ke bos perusahaan.
Balasan
dari bos, meminta ia menghadap besok Senin untuk ngobrol. Dahulu juga saat kali
pertama melamar kerja di perusahaan itu, tidak ada tes-tesan ini itu, cuma
diperiksa bos itu CV-nya yang memiliki skill
dan pepak pengalaman, langsung
diterima untuk masa percobaan 3 bulan dengan gaji UMR Lampung. Ia bekerja penuh
dedikasi dan loyalitas tinggi semata-mata menunjukkan skill yang dimilikinya tanpa pernah mengeluh dan meminta kenaikan
gaji dari sejak awal mengabdi hingga masa kerja di situ genap 4 tahun, hingga
sampailah pada puncak konflik dengan HRD yang membuatnya mengambil keputusan resign kemarin sore, setelah ada
dorongan moril dari orang yang bukan siapa-siapa, hanya klien yang ia perbaiki
alat elektroniknya.
![]() |
| Ilustrasi Hubungan Toxic | Universitas STEKOM | |
Mendengar
ceritanya yang memang mengupak amarah, saya pun terbit rasa kesal dan emosi.
"Kalau saya yang jadi Bapak, sudah gebrak meja," kata saya. Bapak
mekanik ini orang Jawa, tapi tampaknya ia masih memegang teguh prinsip hidup
orang Jawa yang nerimo ing pandum
(menerima dengan ikhlas apa yang sudah bagiannya). HRD ini orang Jawa juga
sebenarnya, tapi bisa dikatakan “Jawa rusak” karena membuat iklim kerja yang sumuk, bikin gerah oleh egonya yang merasa seperti orang yang memiliki
superpower keserbabenaran melebihi yang punya perusahaan. “Padahal, ibunya si
HRD ini santun dan ramah sekali di rumahnya, saya sampai salaman cium tangan
kepadanya. Si HRD ini juga kalau bicara tutur katanya lembut seperti orang Solo,
tapi di kantor bertolak belakang,” kata si Bapak mekanik. Ini HRD agak laen, pikir saya.
Dikasih
motor inventaris pun, ya, ia pakai untuk mobilitas yang berhubungan dengan
pekerjaan, tidak ia bawa pulang motor itu. “Sementara staf-staf kantor yang
dikasih fasilitas mobil, oleh mereka dibawa pulang dan dipakai untuk apa saja
semau mereka,” katanya. Saya menanggapi ceritanya dengan turut menyuntikkan
pesan moral yang senada dengan Bapak klien yang menyuruhnya resign. “Memang,
tantangan dunia kerja yang paling berat adalah menghadapi HRD yang toxic,” kata saya. Bicara gaji, itu
relatif dan masing-masing orang bisa merasakan cukup tidak-cukup berdasarkan value dirinya. Tapi, yang paling dicari
dan didambakan seorang karyawan adalah lingkungan kerja yang nyaman, antarteman
menjunjung solidaritas dan soliditas dalam teamwork
yang menyenangkan. Jauh dari orang-orang yang penuh intrik dan rivalitas.
Ada satu hal yang diungkapkan si Bapak mekanik yang bikin saya tersenyum kecut, Ibu HRD itu berstatus janda. Nah, mungkin itu duduk soalnya, dalam hati saya membatin. Saya spontan jadi ingat istilah “Jablay” sebuah lagu dangdut populer ciptaan Joko Item dan Biing yang dipolpulerkan oleh Tuty Wibowo dan Titi Kamal dalam film “Mendadak Dangdut” yang lalu digandrungi pencinta musik dangdut dan menyematkannya jadi stigma negatif bagi para janda dengan sebutan jablai (jarang dibelai). Tak dimungkiri, terkadang persoalan pribadi dan keluarga di rumah, dibawa-bawa ke kantor dan dihidangkan menjadi racun, mengakibatkan ada orang kantor “keracunan.” Kesuntukan diri dilampiaskan ke orang kantor. Mungkin seperti itu si HRD tersebut. Suntuk dengan status dirinya tidak ada yang menghangati sehingga “kurang kehangatan.”
Mengapa ada tindak pidana korupsi? Karena pejabat tidak bisa memisahkan batasan antara dana publik dan dana privat. Begitu juga dalam hal dunia kerja, HRD sekali pun tidak boleh berlaku manipulatif apalagi karyawan biasa yang notabene merupakan bawahan. HRD seyogianya memberi contoh nyata dalam menciptakan keharmonisan hubungan antara atasan dan bawahan agar sesama bawahan bisa berbuat hal yang sama. Harusnya, dalam kasus di atas, HRD bisa memisahkan batasan antara urusan kantor dengan urusan pribadi. Jangan keruwetan yang dia hadapi di ranah privat (rumah) dijadikan sentimen pribadi terhadap karyawannya di kantor.

Komentar
Posting Komentar