Langsung ke konten utama

Napak Tilas Pantura

Karena dulu pernah bertualang di pelosok Pantura, rasanya saya tidak begitu asing dengan daerah-daerah tempat travel mbelasuk-mbelasuk mengantar penumpang. Waktu ngobrol di kapal, seorang Ibu bilang hendak turun di Wanakaya. Saya menebak-nebak mencocokkan posisinya, tapi nama Eretan dan Lohbener saya sebut, dia menyangkal. Kejauhan, katanya, belum nyampe situ.

Setelah tiba di tempat tujuannya, saya buka g-maps, karuan daerahnya. Ternyata posisi "dunia" itu ada di kecamatan Haurgeulis. Inilah daerah di masa lalu merupakan sentra penghasil sarang walet. Komoditas ekspor bernilai jual tinggi ini pernah jadi primadona sebelum akhirnya tidak diterima lagi di negeri tirai bambu karena ulah orang yang bermain culas dalam berbisnis.

Di g-maps saya lihat dari Haurgeulis mesti keluar ke arah kecamatan Patrol di lintasan jalan negara Pantura. Berarti saya napak tilas jalan pantura. Patrol adalah salah satu daerah penyangga ekonomi Jawa Barat sebagai penghasil bawang merah, beras, ikan tangkap dan tambak, dan perekonomian dari sisi kuliner (rumah makan dan warung kopi tradisional).

Karena letaknya yang strategis di jalur pantura, Patrol jadi semacam rest area tradisional (di luar rest area modern pada jalan tol) bagi penempuh perjalanan yang butuh cari makan, oleh-oleh khas seperti peuyeum, aneka snack, mangga, dan ubi Cilembu. Dibandingkan Lohbener dan Kandanghaur (Eretan) yang sudah "mati" dibunuh jalan tol, Patrol masih tetap eksis.

Dulu sebelum hijrah ke Lampung dan menikah saya biasa wara-wiri di jalur pantura sebagai sales asuransi dari kantor cabang di Cirebon. Lalu buka kantor cabang pula di Bandar Lampung. Tapi, akhirnya saya berlabuh di surat kabar mingguan di Telukbetung. Di situ saya menemukan passion dalam bidang tulis menulis. Sebuah cara untuk tetap sehat dan bahagia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...