Setelah menunggu penuh debar dari 15 September lalu saat diumumkankannya 10 puisi nomine dan 60 puisi pilihan, kemarin diumumkan 1 puisi pemenang utama, 9 puisi nomine, dan 60 puisi pilihan “Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut Sastra Jak Udo Z Karzi 2026)” melalui situs labrak.co yang dibagikan di facebook Udo Z Karzi. Puisi yang ditetapkan sebagai pemenang adalah “Air Tarung: Suoh, 1933—Ketika Sebuah Kampung Hilang dari Peta”.
Membaca dengan cermat pengantar pengumuman hasil penjurian yang Udo Z Karzi tulis di labrak.co tentang 70 puisi yang diperas
dari 116 karya yang masuk, sangat menarik dan melecut rasa penasaran saya untuk
segera membacanya satu-satu. Menurut hemat saya, agak sayang rasanya, hasil
penjurian "Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut Sastra Jak Udo Z Karzi
2026)" ini tidak diterbitkan dalam bentuk buku cetak, tetapi hanya dalam
bentuk buku digital.
![]() |
| Ilustrasi | sumber gambar: labrak.co | |
Padahal,
isinya tentang toponimi Lampung Barat yang sarat dengan nilai-nilai historis
dan filosofis karena mengandung kisah, mitos, legenda, dan ingatan tentang
banyak hal. Apalagi puisi yang ada di buku digital ini (nanti) ditulis oleh tak
melulu oleh ulun Lampung, tetapi juga
oleh orang dari lintas kota bahkan lintas pulau (Jawa, Madura, NTT bahkan
Kalimantan). Barangkali ongkos menerbitkan buku dan pengurusan ISBN,
jadi pertimbangan lain.
Nah,
dengan beragamnya suku, etnis, ras, dan latar belakang budaya para pencipta
puisi tentang toponimi Lampung Barat, tentu memunculkan juga beragam perspektif
dalam menggali imaji dan menginterpretasikan apa-apa yang ada di Sekala Brak
sebagai ladang tempat tumbuhnya berbagai nama dan tempat (toponimi) di Lampung
Barat. Tidak mudah menulis tentang dunia lain, tetapi dengan bantuan referensi, bukan sesuatu yang mustahil.
Dengan
bantuan referensi itu barangkali, banyak pemuisi yang menulis tentang Danau
Ranau, tempat saya menangkap ikan mujair dengan jaring. Saya senang saja ada yang
menjadikan Danau Ranau sebagai bagian yang mereka eksplor menjadi puisi sebagai
bagian dari toponimi Lampung Barat. Danau Ranau ini pula yang jadi lanskap
puisi saya yang mengisahkan sebuah mitos tentang gelintang dibi yang ditengarai datangnya dari Gunung Pesagi lunik.

Komentar
Posting Komentar