Langsung ke konten utama

Suara yang Hilang

Tadi malam kami nonton pemilihan ketua RT di RT 14 Lk II Perum BKP, dua calon duduk bersanding, satu incumbent dan satu lagi penantang. Panitia mencatat ada 72 mata pilih, tapi yang hadir memberikan suara hanya 62 orang. Semula 61 orang yang sudah mencoblos surat suara bertanda gambar foto kedua calon. Empat menit sebelum dinyatakan ditutup pada pukul 21:00 WIB atau 09:00 PM, datang seorang Ibu tergopoh-gopoh, istri imam masjid kami (alm).

Ibu Asrori menggenapi 62 suara pemilih, tepat pukul 21:00 WIB atau 09:00 PM, pemilihan ketua RT 14 LK II Perum BKP Blok P dinyatakan ditutup dan dilanjutkan dengan penghitungan suara. Kertas suara pertama jatuh untuk calon nomor urut 1, incumbent. Selanjutnya perolehan suara kejar mengejar hingga posisi imbang 25 vs 25, lalu saling kejar lagi hingga berhenti di angka 29 untuk calon penantang dan 33 untuk calon incumbent. Ketua RT lama kembali terpilih, lanjutkan.

TPS calon ketua RT 14 LK II Perum BKP 

Yang jadi pertanyaan, siapa pemilik 10 suara yang tidak hadir ke TPS, ke mana mereka kok tidak berpartisipasi dalam pemilihan pamong di RT-nya. Sungguh sayang suara mereka tak digunakan. 10 suara hilang sesia. Andai 10 suara itu ikut nyoblos surat suara di bilik pemungutan, tentu sungguh spekulatif siapa di antara kedua calon yang akan menang. Bisa jadi perolehan suara incumbent tambah banyak atau sebaliknya, akan muncul ketua RT baru bila si penantang yang menang.

Pemilihan ketua RT dengan cara pemungutan suara seperti itu, menghasilkan ketua terpilih yang menang secara bermartabat dibandingkan ketua terpilih dengan pengukuhan secara aklamasi. Dibuka opsi pendaftaran calon lalu pemilihan oleh warga dengan sistem one man one vote dengan batasan 1 KK hanya 2 suara (suami istri). Kecuali dalam satu rumah ada 2 KK (anak yang sudah berkeluarga) yang masih tinggal di situ. Yang penting dibuktikan dengan adanya KK tersendiri.

Hasil pemungutan suara 

Jadi ketua RT adalah pengabdian. Harus disukai warga. Insentif dari pemerintah kota hanyalah bonus. Untuk jadi calon ada kriteria yang mengikat dan harus dipenuhi. Karena itu, untuk lebih fair play dan transparansi proses menghasilkan ketua RT terpilih yang menang secara bermartabat, opsi pendaftaran calon dan proses pemilihan adalah cara yang paling memenuhi asas keterbukaan (pemerataan peluang dan persamaan gender), rasa keadilan, dan sistem yang lebih demokratis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...