Langsung ke konten utama

Jawaban Jujurmu

Terhadap petugas sensus, apakah yang kita katakan menjawab pertanyaannya adalah, yang sebenar-benarnya atau ada yang kita anggap perlu untuk tidak dikatakan. Bila yang dikatakan adalah yang sebenar-benarnya, berarti Anda jujur. Bila tidak sebenar-benarnya, berarti Anda korup.

Jujur atau korup, terpulang kepada mereka yang ditanyai petugas sensus tersebut adalah orang yang antara perkataan dan perbuatannya sejalan atau tidak. Orang yang dalam kehidupan sehari-harinya biasa bertindak lurus serta berkata jujur, kepada petugas sensus akan menjawab yang sebenarnya.

Koruptor yang menyimpan kekayaan (gepokan duit dan emas berkilo-kilo dalam bunker) mutlak bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak bertindak lurus dan berkata jujur. Kepada petugas sensus pun mereka akan menunjukkan tindakan tidak lurus dan perkataan tidak jujur sesuai jati dirinya "koruptor".

Jadi, tadi ada petugas sensus ekonomi datang ke rumah. Mempertanyakan sesuai yang ada di daftar pertanyaan di layar gawainya (ia bacakan). Namanya sensus ekonomi di saat ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tentu jawaban yang kami berikan gambar abstrak ekonomi yang tidak begitu baik-baik amat.

"Tidak begitu baik-baik amat" maksudnya tidak begitu mewah dan tidak pula begitu kesusahan. Standar hidup kebanyakan orang di masa ekonomi yang tidak menentu sekarang ini, memenuhi hajat hidup (konsumsi sehari-hari) adalah prioritas yang harus kuat penyangganya. Yaitu, income yang stabil 

Postingan kemarin menceritakan keadaan pasar Bambu Kuning yang kondisinya makin sepi. Bukan soal pengunjung semata, melainkan soal pedagang. Banyak kios tutup ditinggal pemilik atau penyewa karena perubahan pola belanja. Saiki wis ora usum panas-panasan neng pasar. Kena macet pula. Hadeh.

Orang cukup rebahan di sofa sambil ngemil, buka TikTok cari barang apa yang hendak dibeli, apabila ketemu dan cocok model, warna, ukuran, dan harga tinggal klik keranjang kuning beres. Ngapain lagi blusukan ke Bambu Kuning yang panas dan mesti muter-muter cari-cari apa yang hendak dicari.

Kembali lagi ke masalah sensus tadi. Berhadapan dengan pertanyaan yang menyangkut hajat hidup (ekonomi) agak susah memberikan jawaban yang pasti, semua berdasarkan prakiraan. Pengeluaran untuk makan minum, listrik air gak jelas, satuan hitungnya tergantung pemakaian. Boros atau irit.

Pajak kendaraan + bumi bangunan yang mungkin bisa tetap, bahkan kendaraan bisa turun mengikuti usia pakai. Makin tua makin turun nilai jual, makin mengecil pajaknya. Ini kan kurun waktunya setahun sekali sehingga bukan perkara yang dipusingkan. Makan minum harian, belanja bulanan, itu primer.

Walaupun semuanya kira-kira atau lebih kurang, mengandung kejujuran dan terus terang. Pejabat korup tentu tak ada yang menjawab dengan jujur ketika mengisi LHKPN. "Jawaban Jujurmu" (para pelaku korupsi) niscaya akan membuka topeng kebohongan yang menutupi tindakan jahatmu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...