Langsung ke konten utama

Dijaga Malaikat

Kemarin saya 'safari jumat' di masjid Nurul Iman jalan Untung Suropati, Labuhan Ratu. Sempat agak bingung cari tempat parkir, di sebelah ada ruko sedang dibangun, saya masuk dan nekat memarkirkan motor di dalamnya. Kali lebih aman.

Setelah menambahkan kunci pengaman di roda saya keluar. Masuk halaman masjid membaca ada tulisan "tempat parkir motor, tambahkan kunci pengaman" berupa banner terpasang pada tembok pagar. Saya balik masuk dalam bawah ruko, mindahkan motor.

Masjid Nurul Iman Jalan Untung Suropati No.23 Labuhan Ratu, saya potret dari seberang jalan.

Saya masuk ke masjid, belum ada orang. Berarti saya "absen pertama" di buku catatan Malaikat. Saya salat tahyatul masjid disambung Dhuha. Duduk baca surah Ar-Rahman pada aplikasi Quran di gawai. Mulai ada jemaah berdatangan, satu per satu hingga penuh.

Bubar salat Jumat, saya lempar pandangan ke arah pintu pagar bawah ruko yang tadi saya maksudkan tempat untuk saya memarkirkan motor agar aman, ternyata ditutup dan dikunci. Dalam hati membatin, "Untung saja tidak jadi memarkirkan motor di situ."

Di parkiran, saya berseloroh kepada seorang Bapak, "Tadi saya mau parkir di situ, Pak. Rupanya ditutup dan dikunci, untung saja gak jadi dan memindahkan motor ke sini." Si Bapak menanggapi, "Belum dipakai itu. Masih belum selesai proses pembangunannya."

"Apa itu punya masjid," tanya saya. "Bukan, punya perseorangan," jawabnya. Ia balik bertanya kepada saya, hendak pulang ke mana. "Ke situ," jawab saya sambil menunjuk ke arah By Pass. "Oh, Labuhan Dalam," katanya. "Iya," jawab saya sekenanya saja.

Setelah sama-sama meninggalkan parkiran, Bapak itu mengarah ke kiri, saya ke kanan menuju By Pass. Dalam hati saya bersyukur, untung saja insting saya dijaga Malaikat. Seperti diberi petunjuk agar tidak parkir di bawah ruko yang sedang dibangun tadi.

Saya iyakan ke Labuhan Dalam, menjawab si Bapak tadi. Sebab, saya memang hendak ke rumah Zahdi Basran. Waktu telepon beberapa hari lalu ia bilang kalau kakinya nggak bisa melangkah. Sekalian saya mengantarkan buku yang ia minta tolong belikan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...