Masuk bulan Juli, masih adakah sisa-sisa “hujan
bulan juni” sebagai penyeimbang suhu yang gelagatnya akan benar-benar masuk
musim kemarau. Pasalnya, di Jogjakarta fenomena bediding mulai dirasakan wong Yukjo, suhunya menembus di angka 19
derajat Celsius, dinginnya terasa menusuk tulang. Ora umum iki.
Sementara Malang, cerita teman kera ngalam, di kota dingin itu saat ini suhu udara bisa mencapai 14 derajat Celsius. Waduh.., kok saya jadi kangen Malang. Semenjak meninggalkannya tahun 1989, belum lagi saya menziarahi jejak kenangan saat gandengan tangan dengan kekasih di alun-alun.
Dulu, moda transportasi andalan saat ngelèncèr
ke kota adalah bemo. Gas buang dari knalpotnya mengotori udara, tapi
karena statusnya sebagai kota dingin, gas buang bemo itu sama sekali tak
memengaruhi udara di sana karena sejuk saat malam hingga pagi hari dan terik di
siang hari.
Oleh udara sejuk itu sehingga kendati
siang terik sama sekali tidak membuat badan berkeringat. Baju yang dipakai dua
atau tiga hari sama sekali tidak bau. Karena itu sangat jarang nyuci baju yang
banyak, apalagi sebagai anak indekosan urusan nyuci sendiri butuh drama
melawan malas.
Kendati dijuluki kota dingin, dikelilingi gugusan gunung (Arjuno, Welirang, Semeru, Panderman, Kawi, dan Buta) serta paling dekat dengan Batu yang di ketinggian, agak aneh bila kota Malang jarang sekali hujan. Sebab, Batu bukan seperti Bogor yang memang dijuluki sebagai kota hujan.
Di kota Tapis Berseri, ini
harus pandai-pandai menyiasati cuaca. Saat pagi, terang benderang matahari terik, eh…
siang sikit ada hujan datang berkunjung.
Teman ‘jalan subuh’ saya ke masjid selalu bawa payung tanpa terpengaruh
waktu (subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya) tak luput.
Komentar
Posting Komentar