Langsung ke konten utama

Demam Bertamu

Lagi, demam datang bertamu. Lagi, ruam-ruam merah di punggung dan perut hingga pundak berkunjung. Ruam merah ini untung saja langsung keluar. Bulan April lalu, setelah tiga hari panas naik turun akhirnya ke klinik periksa darah. Hasil tes lab, cuma tipes, bukan demam berdarah dengue. Alhamdulillah wa syukurillah, Yaa Allah.

Tahun lalu, pernah tipes campur DBD, kayak es campur saja. Yang sekarang ini panas tidak juga terlampau tinggi, diminumin sebutir Paracetamol langsung jinak. Tak sampai harus ke klinik untuk memastikan apa penyebab demam ini. Tapi, bisa mungkin dari faktor makan yang masuk ke usus.

Sakit tipes atau demam tipoid disebabkan oleh infeksi bakteri salmonella typhi yang menelusup dalam tubuh melalui makanan, minuman atau lingkungan yang kurang bersih (tidak higienis). Waktu hari Jumat kemarin pulang 'safari jumat' mampir beli es cincau. Bisa jadi itu sumber kasus.

Karena demam, ada dua tempat hajatan tidak bisa saya ikut mendatangi. Hanya istri bareng tetangga yang berangkat. Satu hajatan di Hotel Urban Style Pringsewu. Satu hajatan di BKP inilah, tetangga di Blok O, pemilik usaha penyewaan tenda. Hajatan dewek pakai tenda milik dewek, begitu judulnya.

Hajatan yang di Pringsewu sebenarnya masih orang BKP juga. Ayah mempelai wanita adalah ketua PHBI di masjid kami, saya "anak buahnya" karena anggota "divisi" PHBI itu dalam struktur kepengurusan takmir masjid. Tapi, yang dapat undangan istri karena majlis taklim karena yang ngurus undangan Ibu mempelai.

Yang di Blok O rumahnya selalu saya lewati jika jalan pagi alias jogging, bila kebetulan Bapak itu ada di depan rumah kami bertegur sapa. Berangkat 'safari jumat' pun saya lebih suka lewat depan rumahnya, tidak melewati jalan besar dua jalur BKP. Melewati jalan ini saya rasa lebih praktis. Kayak motong jalur.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...