Langsung ke konten utama

Climate Change

Masya Allah, kok ngeri kali hidup di benua Eropa, Afrika Utara, dan sebagian besar Asia Barat yang dilanda climate change dengan suhu ekstrem antara 41 hingga 44 derajat Celcius. Tak terbayangkan cemmana menanggungkannya. Warga Konoha suhu 31 derajat saja kepanasan.

“Lebih 1.300 kematian tercatat sejak 21 Juni ’26 terkait dengan suhu tinggi di Eropa,” kata Dirjend WHO, Tedros Adhanom Chebreyesus. Padahal, Eropa terkenal dengan iklim sejuk sehingga jarang sekali ada AC di rumah atau ruang publik di sana.

Masyarakat Berlin berkumpul di ruang terbuka hijau menunggu mobil pemadam datang lalu menyentorkan air ke arah mereka.

Karena beriklim sejuk cenderung dingin, rumah orang Eropa didesain khusus dengan dinding insulasi untuk bisa menjebak udara panas biar bertahan lama dalam rumah. Hal itu dilakukan agar suasana hangat tetap bisa mereka rasakan dan membuat nyaman sehingga tak kedinginan.

Kali ini, ketika gelombang panas melanda, ruang yang didesain bisa menjebak udara panas tadi justru terasa seperti oven. Tak terbayangkan di dalam oven, lapis legit saja matang apalagi kulit manusia yang tipis dan sensitif. Bisa melepuh seperti habis terbakar atau dijilat panasnya api.

Baru beberapa hari lalu saya mengulang ingatan, sepertinya tahun lalu di saat bulan Mei-Juni ada cuaca panas ekstrem terjadi di luar negeri yang saya tulis di blog, kenapa kok tahun ini tidak ada. Oh, rupanya beritanya belum sampai ke telinga saya. Setelah baca di X (twitter) baru saya tahu.

Unggahan di blog ini 23 Juni 2023 menceritakan gelombang panas ekstrem yang melanda India selama 3 bulan sejak April hingga Juni dengan suhu 42-44,7 derajat Celcius. 96 orang korban tewas di dua negara bagian Uttar Pradesh dan Bihar Timur beberapa hari dilanda udara panas.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...