Langsung ke konten utama

Ora Nyono

Perasaan kanal YouTube yang satu ini dulu tanpa iklan, kok sekarang digandoli iklan. Jadinya mendengarkan lagu sering terjeda oleh iklan yang numpang lewat. Memang sih tidak begitu mengganggu karena durasinya hanya tiga sampai lima menit. Namanya juga numpang lewat.

Lagu “dangdut campursari koplo full bass” cocok buat teman ngetik di laptop. Lagu-lagu ciptaan Didi Kempot nanging sing nyanyi wong liyo. Ya, di YouTube banyak cover version lagu bergenre apa saja. Sopo wae sing nyanyi, enake podo wae. Ora nyono, lagu campursari enak juga jadi hiburan.

Cover lagu Khurnia Rahma | Spotify |

Enake podo wae dalam segi irama. Apalagi bila mengerti bahasa Jawa, akan luwih enak maneh. “Tak tandur pari jebul thukule malah suket teki.” Makna peribahasa di lagu ini menggambarkan semacam sebuah kontradiksi. Yang ditanam kebaikan, tapi balasannya begitu menyakitkan.

Maka, kenapa lagu-lagu Didi kempot disukai oleh Gen Z sak-Endonesyah sekalipun agak kurang memahami artinya karena bahasa Jawa. Sebab, apa yang terkandung dalam lagu tak jauh dari perihal masalah yang mereka hadapi; patah hati, gagal, capek berjuang sendiri, dan sebagainya.

Initinya, apa yang disuarakan Didi Kempot dalam lagunya oleh Gen Z dirasa relate dengan apa yang mereka alami; berjuang mencintai diri sendiri saja berat apalagi mencintai orang lain yang belum tentu setia, sudah setia merawat cinta malah ditinggal rabi. Dan, tema-tema nelangsa lainnya.

Pagi ini, saya setel instrumental Jazz, istri malah minta dangdut koplo yang saya setel kemarin. “Enak koplo kayak kemarin,” kata istri. Ya, sudah, saya ganti ke lagu-lagu Didi Kempot yang cover version. Sewu Kuto adalah lagu favorit istri, suka dia nyanyikan dalam acara sekolah dan keluarga.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...