Langsung ke konten utama

BTC, Bukan BKTC

Kemarin ceritanya ngantar istri cari jilbab. Tempat tujuan adalah BK. Dulu disebut Bambu Kuning doang dan disingkat BK, lalu setelah dikembangkan pemkot, ditambah Trade Center lantas jadi Bambu Kuning Trade Center, tapi singkatannya BTC, bukan BKTC.

Kaget, Bro melihat keadaan di dalam BTC lantai 1dan 2. Keramik retak-retak, jalan seperti merasa goncangan kayak gempa. Kios banyak kosong ditinggalkan pemilik atau penyewa. Toilet tak mengucurkan air, tak ada lagi yang jaga untuk menarik salar kepada mereka yang buang hajat.

Masuk area parkir lantai dua ada portal manual digerakkan tangan manusia yang berjaga di pos. Karcis parkir ditulis manual pakai tangan dengan bolpoin (pulpen). Portal terkesan modern, tapi setengah-setengah. Yang dicatat petugas plat nomor kendaraan dan waktu masuk parkir.

Kemarin pas kami masuk si penjaga tak berada dalam pos jaga. Saya parkir dan memotret plat nomor, untuk nanti saya tunjukkan pada petugas pukul berapa saya mulai parkir supaya ketahuan berapa jam lamanya parkir serta berapa rupiah yang harus dibayarkan di pos jaga pintu keluar.

Selesai belanja. Begitu hendak pulang, eh... si penjaga portal berdiri di luar pos, portal dalam keadaan tutup. Saya datangi sambil membuka galeri hp menunjukkan foto kepadanya pukul berapa tadi mulai parkir. Terekam kamera pukul 12:25. “Saya di ujung sana,” katanya menjelaskan.

Istri saya ternyata melihat ia di ujung, tempat yang ia katakan. Pas melewati “ujung” yang ia maksud, ada meja dan bangku panjang, ada dua gelas kopi sisa mereka. Rupanya Bapak itu berdua dengan temannya ngopi-ngudud-ngobrol di situ. Gabut juga nunggu pengunjung nggak ada yang datang.

“Entahlah nanti bakal gimana ini,” kata si Bapak menanggapi selorohan istri saya perihal makin sepinya BK. Zaman masih ngajar, istri mengalami yang namanya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diberlakukan oleh Mendikbud M. Nuh tahun 2004 awal pemerintahan SBY - Jusuf Kalla.

Nah, oleh mereka sesama guru, KBK dipelesetkan jadi Keliling Bambu Kuning. Mereka saling kode untuk KBK (ke bambu kuning) maksudnya dengan tujuan cari baju atau jilbab. Mereka lakukan saat baru saja cair tunjangan sertifikasi atau gaji 13. Selingan ngilangin jenuh mengajar full 24 jam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...