Seperti diceritakan pada postingan
kemarin, ada dua buku saya nantikan tiba di rumah minimalis kami ialah “Ramu-Ramu Warteg” beserta “MBGendam”. Wajah buku pertama sudah dimunculkan
di WAG. Sedang buku kedua muncul penampakan wajahnya di laman facebook pagi ini.
Wajah buku “MBGendam” tidaklah seseram puisi di dalamnya yang kental kritikan terhadap program andalan Subowo Prabianto (meminjam cara Doddi Ahmad Fauji, ketua Partay Penulis Puisi, menyebut nama presiden). MBG menyerap anggaran besar keuangan negara, diomon-omonkan di buku ini.
![]() |
| Ini wajah buku "MBGendam" |
Oleh hal demikian itu sehingga MBG mendapat
kritikan tajam dari elemen masyarakat, aktivis kampus, dan lembaga swadaya
masyarakat di Indonesia. Pemerintah akan tetapi bergeming, tetap melanjutkan
dengan rencana menambah SPPG baru. Bikin makin kaya para koncoisme.
Baik, kembali ke buku saja. Kalau pun tak dapat jatah MBG dari RT tempat tinggalmu, toh masih bisa kan menikmati makanan enak di warteg terdekat dengan rumah. Setelah wareg, santai sambil ngopi ngudud dan baca-baca puisi yang ngenyangi dalam buku “Ramu-Ramu Warteg.”
![]() |
| Ini wajah buku "Ramu-Ramu Warteg" |
Ini baru sebatas lamunan thok. Buku
"Ramu-Ramu Warteg" serta "MBGendam" masih dalam proses
distribusi. Masih panjang kerja penggagas proyek menulis puisi menolak korupsi
(PMK) MBGendam (Sosiawan Leak) dan Ramu-Ramu Warteg (DKKT) dari pengumpulan naskah, kurasi, dan
penerbitan.
Buku yang cantik di atas yang satu penuh
kritik perihal MBG dan satu penuh rasa dari berbagai macam menu di warteg. Sekilas
sama belaka. Sebab, antara kritik dan menu warteg munculkan rasa yang sama,
yaitu pedas. Kritik itu pedasnya nyelekit, sedangkan menu warteg pedas enak.


Komentar
Posting Komentar