Langsung ke konten utama

Pola Hidup, Pola Pikir

Zahdi Basran, S.Sos, nama kawan sesama pensiunan KKT (Kerabat Kerja tamTAMA) serta Lampung Ekspres Plus. Namanya sudah saya singgung sekilas pada tulisan di blog ini hari Sabtu (4/7) selumbari. Seusai ‘safari jumat’ di masjid Nurul Iman jalan Untung Suropati, saya menyambangi ia ke rumahnya di Labuhan Dalam.

Si kawan ini penyintas stroke sejak tahun 2009 pasca-pileg tahun itu. Ia nyaleg berperahukan partai beringin alias partai kuning. Nyaris jadi, kalah perolehan suara sedikit dari anaknya ketua partai provinsi. Setelah jadi, anak ketua partai nyalon sebagai wakil wali kota mendampingi mantan wakil wali kota sebagai calon wali kota.

Obrolan warna warni di teras rumah Zahdi 

Dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) 2010, KHADO (Kherlani – M. W. Heru Sambodo) kalah telak melawan pasangan Herman HN–Thobroni Harun. Qodarullah, jika KHADO yang menang, si kawan ini dapat tiket PAW untuk beneran jadi anggota legislatif. Tapi, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah qodarullah.     

Ngobrol sekenanya, ketika saya pamit hendak pulang, kembali saya tanyakan di mana posisi rumahnya. “Ya, udah mampir dulu ke rumah,” ujarnya. Saya iringi ia kea rah rumahnya, masuk gang pisang III, bertetangga dengan orang-orang Bali. Di kampung situ memang banyak warga Bali, maka layak bila disebut sebagai “Kampung Bali.”

Duduk di teras rumahnya yang berhalaman luas, angin semilir datang menyambut kedatangan saya. Saya keluarkan gawai, mengecek arah mata angin, rumahnya menghadap ke mana kok simbur angin banyak kali. Arah mata angin menunjukkan rumahnya menghadap ke timur. Biasanya atau kebanyakan angin datangnya dari arah selatan.

“Saya hampir jatuh lagi,” katanya menceritakan perihal di telepon beberapa waktu lalu ia bilang kakinya susah melangkah. Ia bilang begitu ketika saya tanya kenapa nggak datang di reuni KKT di rumah Heri Cihuy. Ia sempat berkilah tidak tahu ada pertemuan itu. “Loh, kan ada di grup WA. Apa gak baca,” sanggah saya. Agak membagongkan.

“Lutut saya ini sering sakit,” sambungnya. “Apa ada asam urat,” tanya saya. Ia mengiyakan dan menyalahkan AC sebagai biang. Sebenarnya simpel, bila tidak tahan AC, jangan dihidupkan semalam suntuk. Kira-kira cukup sejuk ruang kamar, AC dimatikan saja. Ini kan menyangkut pola hidup bagaimana senyamannya. Ya kan! 

Ketika obrolan kami pindah topik tentang anak, si kawan ini saya nilai tersandera oleh hal yang tidak semestinya dipikirkannya. Anak laki itu bebas, di kota begini nggak ada istilah meranai tuha, beda dengan di kampung zaman dahulu kala. Biarkan sajalah kalau memang jodohnya belum kelihatan hilalnya. Ini, saya katakan menyangkut pola pikir.  

Dalam buku The Propeth, Kahlil Gibran menulis puisi yang ikonik; “Anakmu bukanlah anakmu” (lengkapnya baca di bawah) yang mengandung pesan mendalam perihal cinta tanpa syarat. Dan, filosofi puisi tentang seni membesarkan anak dengan penuh cinta, namun tetap buka ruang kebebasan seluas-luasnya terhadap mereka.

Ali bin Abi Thalib, salah satu khalifah Rasulullah Muhammad SAW, memiliki pesan senada dengan Kahlil Gibran perihal pola asuh anak. “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.” Dalam konteks pikiran kawan di atas, zaman dulu waktu ia ngemeranai berbeda jauh dengan zaman anaknya ngemeranai.

 

Anakmu Bukanlah Anakmu

Puisi: Kahlil Gibran

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.
Mereka adalah putra dan putri dari kerinduan Hidup akan dirinya sendiri.
Mereka datang melaluimu, tetapi bukan berasal dari dirimu.
Dan meskipun mereka bersamamu, tetapi mereka bukan milikmu.

Kau boleh memberikan cintamu, tetapi bukan pemikiranmu.
Sebab mereka memiliki pemikiran mereka sendiri.
Kau boleh merumahkan tubuh-tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka.
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah hari esok, yang tak bisa kau kunjungi, bahkan dalam mimpi sekalipun.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka, tetapi jangan mencoba menjadikan mereka sepertimu.
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, dan tidak pula terikat dengan masa lalu.

Kau adalah busur tempat anak-anakmu melesat sebagai panah kehidupan.
Sang Pemanah melihat sasaran keabadian, dan Dia meregangkanmu dengan kuasa-Nya, agar busur-busur-Nya melesat jauh dan cepat.

Biarkan rengkuhanmu di tangan Sang Pemanah itu menjadi kebahagiaan.
Sebab sebagaimana Dia mencintai anak panah yang melesat, Dia juga mencintai busur yang mantap.”

***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...