Langsung ke konten utama

Telepon Siluman dan WiFi 5G

Tambah satu lagi telepon siluman ndak karuan ini. Sekira pukul 4:56 subuh tadi masuk pesan WhatsApp, isi pesannya, "Acara Hadiah VIV Spesial Segera Dimulai. Masuk untuk melihat hadiah Anda." Masukkah saya? Tentu saja tidak. Emang bisa elo giring.

Kemarin pesan WhatsApp masuk agak siang, pukul 6:53. Isinya lumayan panjang, tawaran jadi anggota judul slots dalam bentuk permainan ular keberuntungan PG hingga Rp100.000. Entah apa makna kode "PG" yang disebutkannya itu. Ai bodo amatlah. Acak ngupi.

Herannya, ini nomor ada foto profil 

Kemarinnya selumbari alias empat hari lewat, Selasa, 30 Juni, kali pertama pesan WhatsApp dari nomor telepon siluman pada pukul 3:34. Isi pesannya seperti yang sudah saya jadikan cerita di blog ini hari itu juga, Selasa, 30 Juni. Terpengaruhkah saya. Ndak.

Ini isi lengkap pesannya 

Tentang telepon siluman, apakah berupa panggilan atau sekadar pesan WhatsApp, tidak akan saya gubris. Yang getol sekali menelepon adalah 188. Saya tahu ini dari CS Telkom, biasanya menawarkan upgrade WiFi atau cuma mau tanya kepuasan pelanggan.

Karena tidak pernah saya angkat, CS Telkom kirim pesan WhatsApp. Isinya mengabarkan kecepatan WiFi sudah ditingkatkan jadi sekian Mbps. Katanya sih bayaran ndak naik. Ya, sudah tak-terimo. Rabu, 1 Juli masuk pesan WhatsApp, katanya teknisi Indihome.

Sopan, membuka percakapan dengan assalamualaikum dan memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama. Katanya, ditugaskan Telkom/Indihome untuk mengganti perangkat modem. Jika saya berkenan, diminta untuk meng-sharelok alamat rumah.

Setelah omon-omon sama istri dan anak sulung, akhirnya saya okein. Pesan mereka pukul 12:37 baru saya respon pukul 13:36 dengan mengirim g-maps rumah. Mereka datang pukul 15:12 dan langsung bekerja. Cepat, wong cuma copot modem lama diganti yang baru.

Modem baru standar 5G 

Saya tanya, kenapa mesti diganti? "Biasa, Pak, perawatan setiap 5 tahun sekali," jawab salah satu dari dua teknisi itu. Pikiran saya mundur ke belakang, oh... sudah 5 tahun rupanya WiFi ini. Ya, tepatnya tahun 2021 dipasang (lagi) untuk keperluan anak ragil WfH kala itu.

Jadi mengingat ulang drama anak ragil ini lepas dari kungkungan lockdown Covid-19 saat baru saja diterima bekerja di sebuah platform media berita digital sebagai video editor. Beberapa bulan ia jalani WfH dari kamar indekos di Jogja. Pas ada pelonggaran, pulang.

Satu tahun ia WfH dari rumah, sanding ibune. Mangan turu melu ibune, gajine utuh. Keperluan buat ia WfH itulah jaringan WiFi yang dicopot minta dipasang lagi kepada Telkom. Hingga tanggal 1 Juli kemarin dipasang modem baru standar 5G, lima tahun sudah.

Setelah Covid-19 benar-benar reda dan dianggap aman, ia dipanggil ke Jakarta untuk WfO (work from office). Nah, dengan adanya drama ganti modem ini jadi diingatkan pula, ternyata sudah lima tahun anak ragil ini jadi anak Jaksel karena ngantor dan indekos di Pasar Minggu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...