Berangkat satu file berisi tiga puisi tema “Kota Kita” ke e-mail panitia ulang tahun Sastra Bulan Purnama (SBP) Yogjakarta. Sudah siap dikirim sejak kapan waktu lalu, tapi mengulur-ulur karena deadline masih panjang.
Kemarin teman penyair di Banjarmasin
kembali mengingatkan sambil mengirim satu flyer
lomba menulis puisi lain yang akan ada kemah satranya. Nah, iya juga, baru ingat
jadinya. Padahal, bila tak diingatkan begitu kok seperti tidak punya utang.
![]() |
| Pohon salak durinya medeni |
Entahlah, kata saya kepadanya, apakah saya ikut atau gak mengirim puisi ke even kemah sastra itu. Di flyer memang tak disebutkan tema. Karena itu, teman penyair ini
agak bingung hendak menulis puisi yang bagaimana. Ia pun betakun pada saya.
Ya, tulis saja “Puisi yang menyejukkan,
Islami, cinta kedamaian menyiratkan ukhuwah dan nasionalisme.” Saya menyarankan seperti itu, mengingat tempat digelarnya kemah sastra adalah pondok pesantren As-Salam Yogjakarta.
Saya mencari tahu pondok pesantren As-Salam beralamat di mana. Tidak dicantumkan di flyer. Sepertinya di daerah Sleman yang sentra salak pondoh. Mungkinkah pondok diambil dari kata 'pondoh' dan As-Salam dari 'salak' atau 'alam'.
Ya, kan. Kemah sastra digelar di
pondok, puisi yang cocok diikutsertakan dan bila lolos kurasi, saat dibacakan
di sana akan mengena apabila mengusung metafora tentang alam yang sejuk. Hal itu memetaforakan pedesaan di Sleman.
Kalau As-Salam diambil
dari “salak” yang Sleman merupakan sentranya. Salak pondoh yang manis kendati
pohonnya diselimuti duri, tapi tidak sulit mengunduhnya. Kendati luka
tertusuk niscaya segera hilang oleh manisnya daging buah salak.

Komentar
Posting Komentar