Bakda salat magrib kemarin (Selasa, 14/7), seorang jemaah yang sesekali jadi imam, maju ke depan dan duduk di undakan dekat kaki sajadah imam, menyampaikan sambutan, isinya pamitan hendak meninggalkan BKP, kembali ke Segalamider (tempat asal sebelum masuk BKP).
“Terima kasih atas penerimaan terhadap saya dan kebersamaan sebagai jemaah masjid ini,” katanya. Pada grup WA warga RT (tempat tinggal selama ini) dan takmir masjid juga menulis panjang tentang penerimaan dan kebersamaan itu. Anggota grup menanggapi baik kebersamaan ia sebagai imam.
Tidak hanya jadi imam -sesekali- salat lima waktu di masjid, tapi juga jadi pembaca doa ketika ada acara tahlilan. Jadi, selama satu tahun beliau sekeluarga tinggal bermukim di wilayah RT kami, cukup banyak kontribusi dalam memakmurkan masjid (berkaitan ibadah) dan hajatan warga (berkaitan muamalah).
Satu tahun mereka menempati rumah yang pada dasarnya (sebenarnya) dinego untuk dimiliki, tapi seperti dikatakannya, ternyata belum “jodoh” dan memutuskan kembali ke Segalamider, tempat yang dulu pernah mereka tinggali. Nah, rupanya rmah ada “jodoh dan tidak jodoh” (harga dan fengshui).
Berkurang satu (yang bisa dan biasa jadi imam). Saya pun mulai ngerem untuk maju jadi imam. Kalau tidak begitu, tidak ada pengkaderan. Tidak akan muncul imam-imam baru. Bila dibiarkan, terjadi krisis imam. Gak makmur masjid kalau imamnya “L4 - Lu Lagi Lu Lagi.” Tapi, susahnya, tidak ada yang mau jadi kader.
Komentar
Posting Komentar