Langsung ke konten utama

Judi Bola

Saya sengaja mengubah setelan alarm pada hp. Memajukan dua jam dari waktu bangun biasa saat akan subuhan. Ingin melihat Messi dan Rodrigo rebutan juara pada final piala dunia FIFA World Cup. Bangunlah saya seperti kehendak alarm berdering.

Kuhidupkan TV mencari channel yang ada bola itu, gak ketemu. Kubikin mati itu TV dan balik ke kamar menarik selimut. Cuma sekadar untuk mengobati penasaran saja. Tak sama sekali senang menonton bola, tapi karena kejuaraan dunia FIFA World Cup.

Logo Google momen final Argentina vs Spanyol 

Sebelum tidur, ada video di WhatsApp Grup, kayak tebak-tebakan atau ramalan siapa yang akan keluar sebagai juara dunia, apakah Argentina atau Spanyol. Dua bola warnanya menyimbolkan kostum kedua timnas yang akan berlanga di final pada dini hari itu.

Saya tonton video, dua bola digulirkan di tangga, jalan sejajar, menambrak batu dan tercebur ke air, terus bergulir hingga akhirnya bola warna kostum Argentina pecah dan bola warna kostum Spanyol sampai tempat tropi juara FIFA World Cup ditaruh.

Saya membatin, "Wah, apakah Spanyol yang akan juara?" Saya share video itu ke grup takmir masjid. Waktu hendak balik tidur, saya kembalikan setelan alarm hp ke jam yang semestinya bangun subuhan, waktu hendak balik tidur setelah tak jadi nonton.

Pagi pun tiba, tak ada rame-rame omon-omon soal bola. Saya jadi penasaran, siapa sih yang jadi juara. Ketika tahu Spanyol yang juara, pikiran saya seperti diganggu video yang saya tonton sebelum tidur. Ah, kok bisa, ya, apa yang di video itu beneran terjadi?

Ternyata di WhatsApp Grup, ada komentar bahwa, ChatGPT pun meramal Spanyol yang akan keluar sebagai juara FIFA World Cup. Waduh eneng-eneng wae ulah orang yang maniak bola. Tentulah mereka berjudi, totoan menebak siapa yang akan jadi juara.

Saat pertama dua bola digulirkan di tangga
 
Saat dua bola bergulir di bebatuan 

Saat bola warna kostum Argentina pecah 

Saat bola warna kostum Spanyol sampai di tempat tropi juara dunia FIFA World Cup diletakkan 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...