Langsung ke konten utama

Kopi Liwa Selalu Begitu

Bertandang ke rumah Zahdi Basran, Jumat (3 Juli), saya ditawari kopi. Semula saya enggan karena kopi yang saya minum di rumah masih setengah gelas, saya tinggalkan berangkat ‘safari jumat’ yang memang sengaja meniatkan menuju masjid Nurul Iman di jalan Untung Suropati, Labuhan Ratu. Sebab, nanti sepulangnya, hendak ke rumah Zahdi Basran ini.

“Di rumah tadi kopi saya masih setengah gelas,” kilah saya. Langsung disambar Zahdi, “Tapi kan lain, ini kopi dari Liwa,” ujarnya seperti hendak pamer kalau di rumahnya selalu dapat kiriman kopi dari Liwa. “Ya, bolehlah, tapi jangan dikasih gula,” kata saya. Lama juga tidak menyeruput kopi tubruk sangrai heni (pasir) dan ditumbuk di lesung.

Kopi yang baru dipetik di halaman rumah panggung di pekon-pekon | credit foto: scopophilia.net |

Menyangrai (roasting) kopi pakai heni (pasir) dan menumbuknya di lesung memang tradisi orang di pedalaman Sumatra atau istilahnya jelma pekon (orang kampung). Rasa kopi beda dengan roasting (sangrai) a la pabrikan. Itulah kenapa orang yang maniak kopi selalu merindukan kopi kiriman dari puari di pekon. Ya, karena taste-nya lain banget.

Kendati kopi ditingkahi bakwan goreng, karena kopi Liwa, tetap saja asam lambung saya jadi sedikit mendaki ke rongga dada. Belum sampai taraf gerd. Tapi, rasanya agak gimana gitu. Kendati sesampai di rumah saya makan nasi, tapi sudah terbilang telat. Tak ayal asam lambung saya mesti dijinakkan dengan obat mag. Baru agak nyaman.

Perihal asam lambung saya naik tersebab kopi yang disuguhkan di rumahnya, belum saya kasih tahukan ke Zahdi. Takut ia kepikiran. Seperti yang saya tulis di cerita kemarin tentang "pola hidup" dan "pola pikir", kawan alumni tamTAMA dan LE penyintas stroke, ini nyaris jatuh lagi. Ada "pola hidup" dan "pola pikir" yang salah yang ia imani.

Beginilah cara ibu-ibu di pedesaan Pulau Sumatra menyangrai kopi pakai wajan di tungku dan kayu bakar | foto: Kristijan Arsov/unsplash.com |

Ah, kopi Liwa selalu begitu. Dahulu, pernah ketika bertandang ke rumah Udo Z Karzi, ia suguhkan kopi Liwa, pulangnya asam lambung saya naik. Obat mag, untung selalu tersedia di kotak obat. Saya kunyah sebutir lalu melungsurnya dengan air putih hangat. Tak lama asam lambung saya mulai melandai, hilang, dan kembali nyaman terasa.

Perkara ngopi, saya dan istri biasa saja gonta ganti merek. Sudah lama tidak dapat kiriman kopi dari pekon di Ranau. Terhitung semenjak ayunda satu berpulang dan satunya setelah pensiun mengajar, menetap di Muaradua ikut anaknya. Sementara kebun kopi warisan orang tua diurus oleh orang yang maron (maru, istilah bahasa Lampung).  

Semakin jauh perut berjarak dengan kopi jak pekon. Semakin asing dengan kopi sangrai heni dan titutu di lesung. Semakin akrab dengan kopi jenama tertentu yang gonta ganti. Tapi, apa pun merek kopi, sai penting ngupi daleh bukekanikan. Itu sarapan saya dan istri. Tak lagi kenal sarapan nasi. Makan nasinya pukul 11 atau abis zuhur.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...