Langsung ke konten utama

Ke Al-Bakrie Lagi

Setelah ikut salat jumatan bersamaan dengan peresmiannya oleh Menteri Agama Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar pada 12 September 2025, baru hari ini saya kembali jumatan Masjid Raya Lampung Al-Bakri sebagai pengejawantahan perjalanan 'safari jumat' yang saya lakukan mulai sejak 3 Januari 2026.

Karena cukup lama (setengah tahunan) tidak ke sana, saya tidak tahu bagaimana kondisi di dalam masjid, terutama berapa baris karpet yang disediakan untuk jemaah, maka saya mengantisipasi dengan membawa sajadah kecil. Eh... rupanya karpet yang tersedia ada barangkali 10 baris. Jumlah persisnya mesti dihitung.

Seusai salat jumatan di Masjid Al-Bakrie 

Saya tidak menghitung sehingga tidak tahu persis ada berapa bariskah, tapi lebih dari 5 baris. Alhasil, praktis sajadah kecil yang saya bawa buat digunakan berdua (saya dan anak), tidak perlu digelar melapisi karpet yang disediakan masjid. Setelah maju tiga kali berpindah, saya di shaft kedua di belakang khatib.

Yang menjadi khatib bukan orang asing di mata saya. Wajahnya amat familiar. Dahulu ia pernah di Tianshi, sebuah MLM di bidang produk kesehatan dari China. Pernah juga menjadi anchor di radio swasta nasional. Pernah jadi pengisi kultum jelang buka puasa di TV One Lampung. Sering menjadi master of ceremony.

Kendati wajah khatib ini begitu familiar, saya sama sekali tak ingat namanya. Kendati saya salami dan mengonfirmasi kebenaran dahulu ia 'orang thiansi' dan diiyakannya, saya tidak berani untuk bertanya siapa namanya. Entah mengapa kondisi awkward perihal menanyakan sesuatu sering menghantui?

Dahulu pernah juga terjadi, saat tahlilan ayah saya meninggal, salah seorang tamu mengonfirmasi saya dengan menyebut nama saya dan saya iyakan. Ketika ia bertanya, "Masih ingat dengan saya?" Spontan saya jawab "masih", padahal saya tidak mengenalinya lagi. Terang saja lupa, 30 tahun sejak kami lulus SMP.

Setelah tahlilan bubar dan saya bertanya pada kakak ipar, siapa orang itu tadi dan dijawabnya dengan menyebutkan namanya, baru saya ingat kalau ia itu 'besti' saya waktu SMP. Besoknya, ketemu lagi, saya langsung akrab, menanyakan apakah ia (yang jadi polisi) masih tugas di Jambi? Setahu saya begitu.

Dijawabnya, "Sudah di Palembang. Bahkan, pernah di Polda Metro Jaya." Kini, tentu saja ia sudah pensiun dan kabarnya menderita stroke. Inilah cerita akhir Ramadan atau awal Syawal sebagai pengisi blog hari ini. Ada orang yang masih puasa, lebaran besok. Ada yang lebaran hari ini, sudah menikmati ketupat opor.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...