Langsung ke konten utama

Persempit Kesempatan

Perjalanan ‘safari ramadan’ hari ini, saya jemaah salat Zuhur di masjid Al-Ikhlas, beralamat di Jl. Raden Gunawan, Sukamaju, Rajabasa Pemuka. Masjid ini sejak setahun berjalan direnovasi, dua menara telah berdiri begitu gagah menuding langit. Semoga bisa jadi tangga melangitkan doa para jemaah sehingga mudah tersampaikan ke Haribaan Ilahi Rabbi, tentunya melalui sodakoh jariah sebagai wasilah atau perantaraannya.

Ya, panitia renovasi masjid memang membuka peluang seluas-luasnya kepada jemaah buat beramal sebanyak-banyaknya (fastabiqul khoirot). Maka, diadakan open donasi melalui beberapa rekening masjid. Disediakan juga kotak infak di dalam masjid. Bahkan, di masjid yang manajemennya sudah modern mempergunakan barcode Q-RIS. Jemaah tinggal klik doang, uang infak langsung masuk dalam rekening masjid. Sesimpel itu.

Masjid Al-Ikhlas Jl. Raden Gunawan Rajabasa Pemuka 

Masjid Al-Ikhlas ini tidak begitu luas, tapi tentu cukup untuk menampung jemaah dari sekitar situ. Letaknya yang strategis di pinggir jalan, memudahkan driver ojol mampir menunaikan kewajiban menghambakan diri kepada Gusti Allah SWT. Atau tempat orang yang kehujanan mampir berteduh. Apalagi di luarnya dipasang atap kanopi yang menutup penuh jalan di samping masjid.

Teras luar memang masih berupa semen biasa, belum dikeramik. Sepertinya prioritas panitia renovasi mempercantik penamapakan di depan, terutama menara kembar di kiri kanan pengimaman. Tempat wudu sudah lumayan representatif dengan air yang lancar, bikin sejuk wajah yang dibasahi air wudu. Tata udara ada AC dan kipas angin. Tapi, tadi Zuhur hanya kipas angin.

Oh, omon-omon, di masjid ini pernah ada kejadian motor jemaah dicuri. Agak lupa saya kejadian pas salat lima waktu atau jumatan. Yang jelas, itu kesialan alias apes bagi si koprban kehilangan. Pengurus masjid tak bisa berbuat banyak selain ikut bersedih dan merasa begitu geram terhadap aksi pencurian itu. Makanya, ada masjid yang memasang CCTV di area parkir.

Jemaah salat Zuhur tadi siang 

CCTV sekadar bermanfaat untuk memantau gerak-gerik orang yang mencurigakan sehingga bisa mencegah kejahatan yang akan mereka lakukan. Atau merekam aksi yang telanjur terjadi. Rekaman CCTV memang bisa membantu aparat berwajib mengidentifikasi pelaku, tapi kalau pun pelaku tertangkap, toh barang bukti kejahatannya (motor yang dicuri) susah kembali.

Maka, sebagai tindakan pengamanan, si empunya kendaraan (motor) diimbau untuk menggunakan kunci ganda yang dipasang di rem cakram atau memasang alarm. Dengan begitu, motor diparkir di mana pun akan aman. Pesan Bang Napi, “Waspadalah… Waspadalah… kejahat bisa terjadi karena ada niat dan kesempatan. Persempitlah kesempatan itu.

Lain hal bila motor jemaah hilangnya di masjid Jogokariyan, Yogyakarta, niscaya akan diganti oleh pengurus masjid. Di bulan Ramadan ini, pengurus masjid Jogokariyan mampu menyediakan sajian buka puasa hingga 4.200 porsi, itu pun masih kurang. Artinya, uang donatur memang disalurkan untuk kemaslahatan umat. Maka, layak saja mereka mengganti motor hilang.

   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...