Kali pertama melihat kedai kopi gerobakan mengusung jenama "NESCAFE" di Pasar Pucang, Surabaya. Tidak jauh dari tempat indekos anak. Saya membatin, "Nescafe kan kopi Lampung, kok di Lampung gak ada kopi gerobak begini ini."
Anak saya tanya, "Di Lampung udah ada, Yah, kopi Nescafe ini?" Langsung kujawab, "Belum." Nah, pagi ini tadi, saat saya beli camilan buat teman ngopi di Iman Jaya, di pinggir jalan ada gerobak kopi Nescafe ini. Saya samperin, cari tahu ada yang panas gak?
![]() |
| Setidaknya, di Lampung saya tahu ada satu ini gerai kopi Nescafe gerobak. (dokpri) |
Sayang sekali kopi yang dijual semua cold brewing. "Semua dingin, Pak," jawab nona-nona yang nunggu gerai gerobak ini. "Berarti enaknya siang hari, ya, pagi begini enaknya kopi panas. Okeylah, mbak, kapan-kapan saja," kilah saya mengakhiri interaksi.
Cold brewing (seduh dingin) ala-ala kopi Italia. Saya jadi teringat puisi dwi bahasa pada buku antologi puisi "Bahasa Ibu, Bahasa Darahku" yang digagas Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) Jakarta dan diterbitkan penerbit TARESIA, Jakarta.
![]() |
| Ini varian kopi yang dijual. Taglinenya "Biar Murah, Rasa Tetap Wah!" |
Pada buku ini saya sumbangkan dua puisi dwi bahasa "Kopi Liwa Brewing Italia (Kupi Liwa Tisesoh Cara Italia)" dan "Kaubawa Luka Sia-sia (Niku Ngusung Katan Sesia)." Kopi Liwa Brewing Italia adalah kopi yang diseduh dengan air dingin (tisesoh wai ngingi).
Yang membedakan Kopi Liwa Brewing Italia dengan kopi gerobak Nescafe adalah, jika kopi Liwa brewing Italia betul-betul diseduh dengan air dingin, maka kopi gerobak Nescafe diseduh dengan campuran es batu. Efek dinginnya sama, tetapi rasanya berbeda.
Apa yang menyebabkan rasa berbeda? Cold brewing ala Italia adalah kopi bubuk murni diseduh dengan air dingin dan dibiarkan satu hari atau satu malam baru dihidangkan, sementara kopi gerobak Nescafe diseduh campur kental manis Carnation dari Nestle.


Komentar
Posting Komentar