Langsung ke konten utama

Kena Selahnya

Setelah ketemu teori bagaimana tadarus Quran bisa mendapatkan bacaan 2 juz per hari, tapi kenyataannya justru mendapat 3 juz, dalam 2 hari ini saya merasakan sekali, tidak berat-berat amat untuk mengkhatamkan Quran bulan Ramadan 2 atau 3 kali.

Kuncinya, ketahanan melawan kantuk. Caranya dengan menambah jam tidur setelah waktu syuruk tiba. Tidur 1 sampai 2 jam, lalu bangun pada pukul 8 atau lebih, lalu mandi dan salat Dhuha. Sesudahnya, teruskan tadarus yang dibaca sesudah Subuh tadi. Itu saya praktikkan.

Tak terasa saya sudah melampaui setengah Al-Quran (15 juz). Tadinya sempat pesimis untuk mewujudkan capaian pada Ramadan tahun, khatam 2 kali. Ini pada puasa di hari ke-14, saya sudah mendapatkan 22 juz dan masuk ke juz 23. Dengan semangat, tetapi enjoy.

Besok pagi bakda Subuh melanjutkan tadarus juz 23 (selesai atau terpotong). Jika selesai terus ke juz 24 (niscaya terpotong) untuk jeda menambah jam tidur bakda syuruk. Bangun, mandi, salat Dhuha dan zikir, lalu melanjutkan tadarus hingga jelang salat Zuhur.

Bakda salat Zuhur ('safari ramadan'), gas melanjutkan tadarus, masuk juz 25. Dengan posisi ini, tinggal 5 juz lagi akan khatam. Hitungan kasarnya, akan terwujud di 2 hari ke depan atau pada puasa ke-16. Dengan begitu, insyaallah, Ramadan tahun ini, semoga khatam 2 kali.

Jika saja tidak saya paksakan 3 juz per hari sejak 2 hari yang lalu, maka sinyal pesimis mewujudkan capaian Ramadan tahun lalu, khatam 2 kali, sangat beralasan. Setelah saya geber menjadi one day three juz, saya pun bisa mengejar ketertinggalan dan membayar lunas.

Kena selahnya. Begitulah istilahnya. Selah (Lp) atau strategi adalah cara menyelesaikan atau mencapai sesuatu mewujud menjadi kenyataan. Meningkatkan kemampuan tadarus dari semula one day two juz jadi one day three juz, itu yang saya sebut dengan 'selah'.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...