Langsung ke konten utama

Selangkah Lebih Maju

Selangkah lebih maju, begitulah capaian saya hari ini. Tadarus baksa Subuh yang kemarin-kemarin saya lakukan, saya majukan menjadi sebelum Subuh. Mengisi waktu antara imsyak dan azan subuh, saya nyicil baca Quran sedapatnya, pagi tadi mendapat empat lembar. Bakda Subuh saya lanjutkan menunggu syuruk. Waktu syuruk tiba, saya hentikan tadarus.

Hampir saja mendapat satu juz, hanya tinggal 3 lembar. Tapi, sayangnya, terhalang oleh gejala buang angin. Ya, sudah, ketimbang ditahan naik ke kepala membuat pening, akhirnya saya sudahi ngaji untuk membuang angin yang mendesak. Biasa, sesudah menyelesaikan aktivitas menyiram kembang di halaman, saya tidur hingga pukul 9.30 dan bangun, mandi, salat Dhuha.

Masjid Al-Falah, Gang Waluh

Bakda Dhuha saya selesaikan bacaan ngaji (tadarus) yang tersisa 3 lembar tadi dan lanjut masuk pada juz berikutnya hingga menjelang Zuhur. Tidak juga selesai, tersisa 6 lembar. Lanjut sesudah Zuhur dan masuk lagi ke juz berikutnya hingga selesai saat menjelang Asar. Alhasil, hari ini mulai sebelum Subuh hingga sesudah Zuhur, tadarus saya dapat 3 juz, yaitu juz 17, 18, dan 19.

Jadi, itulah makna judul “Selangkah Lebih Maju” pada postingan blog hari ini. Nah, perihal ‘safari ramadan’ saya laporkan sekaligus dua hari termasuk kemarin. Kemarin saya salat Zuhur di masjid Al-Falah, Jl. Imam Bonjol Gang Waluh, Kemiling. Untuk ‘safari ramadan’ hari ini, saya salat Zuhur di Masjid Al-Mukhlisin, Bukit Kemiling Permai, Blok Y. Pulangnya ambil laundry-an.

Masjid Al-Mukhlisin, Perum BKP Blok Y

Dulu pernah saya hendak salat jumatan di Masjid Blok Y ini, saya menunggu hingga jelang azan kok tak ada jemaah datang. Rupanya tidak dipakai untuk jumatan. Selain saya, ada satu tukang bangunan yang bekerja di Blok T hendak salat jumatan juga. Akhirnya saya ajak ia hijrah ke masjid Al-Azhar di Blok Z. Pada hari kerja gini, masjid sepi di waktu Zuhur itu sebuah keniscayaan.

Seperti tadi salat Zuhur, jumlah jemaah berikut imam di Masjid Al-Mukhlisin hanya 11 orang. Penyebabnya, itu tadi, bapak-bapak yang bertempat tinggal di sekitar masjid, barangkali masih beraktivitas di luar rumah atau bekerja (ngantor). Lain halnya di masjid kami Blok P, bapak-bapak yang sudah pensiun agak banyak, itu yang membuat jemaah salat Zuhur dan Asar ramai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...