Langsung ke konten utama

Rezeki dan Musibah

Jalan raya Natar yang merupakan jalan negara atau jalan lintas tengah (jalinteng) Sumatra, merupakan akses menuju bandar udara (bandara) Radin Inten II di Desa Branti, kecamatan Natar, kab. Lampung Selatan. Jalan ini padat kendaraan, sering macet, dan sangat rawan terjadi kecelakaan lalu lintas.

Tadi sore sewaktu hendak mengantarkan anak ragil ke bandara untuk kembali ke Jakarta, mobil minibus yang ada di depan kami, ban serepnya terlepas dari tempat menaruhnya di bawah body mobil dan mental bergulir lalu tertabrak oleh mobil yang kami tumpangi, jeleduk, menyebabkan plat nomor polisi terlepas dari bemper.

“Ya, bagaimana, Mas. Namanya juga musibah,” kata si empunya mobil yang ban serepnya terlepas itu, ketika sopir mobil yang kami tumpangi hendak meminta ganti rugi. Sopir mobil kami tak bisa ngotot apalagi sampai bersikeras, ia maklum saja karena memang namanya musibah tak bisa dielakkan dan tak pula dikehendaki.

Ya, “untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” kata pepatah sepuh yang artinya nasib (baik maupun buruk) adalah rahasia Tuhan yang tidak dapat diubah, diprediksi atau dihindari manusia. Seperti halnya rezeki, datang dari arah yang tak disangka-sangka. Begitu juga dengan musibah, datang atau terjadi tanpa bisa diduga.

Di masa arus mudik dan arus balik Lebaran tahun 2026, banyak musibah yang tentu saja terjadinya bukan atas kehendak manusia, melainkan karena atas takdir Tuhan yang tak bisa diubah, diprediksi atau dihindarkan tadi. Pengin selamat sampai kampung, apadaya di tengah jalan terhalang musibah. "Itu aral melintang," namanya.

Penginnya sehat-sehat sampai tujuan, nggak tahunya kecelakaan di jalan lalu meninggal. Ada yang video kejadian mobil menabrak orang yang terekam CCTV, diputar sebagai reka ulang oleh televisi, nyeri ulu hati menontonnya. Ternyata sopir mobil yang menabrak dalam kondisi mabuk setelah mengonsumsi sabu.

Begitulah ‘rezeki dan musibah’ membersamai manusia dalam menjalani kehidupannya. Datang silih berganti. Rezeki datang mengisi ceruk-ceruk rasa bahagia saat berlimpah harta, cukup, dan halal. Di lain waktu merasa nelangsa saat musibah datang mengisi ceruk sedih ketika kekurangan harta atau tertimpa kemalangan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...