Langsung ke konten utama

Masjid Khoir

Ini yang namanya faktor kebetulan. Jika kemarin ber-‘safari ramadan’ saya salat Zuhur di masjid Thoriqul Khoir, maka hari ini saya salat Zuhur di Masjid Jami’ Nurul Khoir dekat Pasar Tamin. Sama-sama ada kata ‘khoir’-nya, itu yang saya maksudkan dengan faktor kebetulan. Bukan tebak buah manggis.

Dahulu, masa anak sulung saya sekolah di SPANDA dan SMANDA tahun 2008–2012, saat pulang sering menjadikan Pasar Tamin sebagai titik jemput. Masa-masa SMS sedang jaya-jayanya. Atau di masa-masa peralihan perangkat komunikasi seluler dari telepon genggam jadul NOKIA ke era Blackberry dan android.

Masjid Jami' Nurul Khoir dari depan 

Kendati begitu, belum sekali pun saya coba singgah menumpang salat di masjid jami’ Nurul Khoir. Walau pernah dilakukan renovasi, menilik ke ruang masjid, interior di dalamnya masih terlihat seperti tidak ada perubahan yang signifikan. Karena yang direnovasi, sepertinya mempercantik profil pada bahagian teras.

Dari segi jemaah salat Zuhur pun, meski dekat dengan ‘orang-orang di pasar’ nyatanya tidak juga ramai. Tapi menariknya, ada jemaah perempuannya tadi. Ini masjid agak laen dibanding beberapa masjid yang sudah saya jadikan tempat ‘safari ramadan’ khusus salat Zuhur tak ada jemaah perempuan, bahkan laki-laki cuma sedikit.

Penampakan interior dan jemaah salat Zuhur 

Yang bisa dikatakan pasti ada jemaah perempuan saat salat Zuhur, sejauh yang sudah saya saksikan adalah masjid Al-Iman (Bambu Kuning) dan masjid At-Taqwa (Gunung Sari) Jalan Kotaraja, Tanjungkarang. Di kedua masjid ini niscaya ada jemaah perempuannya karena dekat tempat belanja (Ramayana dan Pasar Tengah).

Saat hendak keluar masjid, mata saya melirik papan tempat mencatat uang kas masjid Nurul Khoir (uang masuk dan uang keluar). Tertera besaran dana yang (katanya) tersimpan di rekening bank sebanyak Rp58 juta sekian. Saya membatin, "Wah, lumayan kaya ini masjid. Berarti jemaahnya 'memakmurkan' masjid."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...