Lagi..... berangkat satu file puisi (berisi tiga judul) saya kirimkan barusan ke panitia. Sepulang dari Iman Jaya beli camilan buat teman ngopi dan ke pasar di dekat masjid Baiturahim, Beringin Raya, tapi sampai sana saya malah bingung, sebenarnya pengin beli apa.
Akhirnya
pulang saja mengingat di rumah masih ada stok tiga ikat pokcay. Istri menyiapkan rajangan
pokcay untuk ditumis sembari menjerang air buat ngopi, saya membuka laptop
untuk mengirim file puisi tadi. Beres dan terkirim, tak ada beban lagi. Plong rasanya hati.
![]() |
| Limus super besar di pasar tempel Baiturahim |
Di pasar
tadi saya melihat buah pakel super besar di dalam keranjang plastik. Inilah buah
pakel terbesar, yang sedang ada juga dan terkecil pun ada yang ulun Lampung menyebutnya limus pantis. Disebut
limus pantis karena mengacu pada buah pantis atau lerak.
Ya, pantis
adalah lerak. Tahu kan buah lerak itu kecil seperti kelereng. Nah, pakel yang
paling kecil disebut limus pantis oleh ulun
Lampung. Di sebelah rumah ‘masa kecil’ saya dahulu, ada sebatang limus pantis. Rasanya sangat manis, dagingnya padat tanpa serat.
Serat
menganalogikan buah pakel yang banyak serabut dan daging buahnya sedikit
sehingga memakan pakel jenis ini akan membuat serat atau serabutnya itu jadi
selilit di sela-sela gigi. Uh, betapa repot membersihkan selilit dari serat atau serabut
pakel. Ini pengalaman 😀
Saya
hanya ‘maling foto’ alias memotret pakel super besar dalam keranjang ini dan
tak tertarik membelinya karena takut hanya akan memanen selilit serat atau
serabut. Lagi pula, ya, kalau rasanya manis. Jikalau kecut, tentu hanya cocok untuk jadi
bahan sambel saja.
Kalau
pun saya membeli pakel, akan memilih yang jenis limus pantis saja, kendati tidak manis
amat dan banyak serat atau serabut, jenis yang ini kalau disambel lebih enak. Tetapi,
lebih enak lagi sambel mangga itu, kalau menggunakan mangga kweni. Tak percaya,
coba saja.

Komentar
Posting Komentar