Langsung ke konten utama

Ibadah Puisi

Selain dirayakan sebagai Hari Raya Idulfitri, 21 Maret dirayakan sebagai Hari Puisi Sedunia. Sebentar, sebelum lanjut, perlu dikemukakan bahwa baik 1 Ramadan maupun 1 Syawal-nya, ada dua versi. Pertama, versi Muhammadiyah, 1 Ramadan (18/2) dan 1 Syawal (20/3). Kedua, versi Pemerintah yang diikuti Nahdiyin, 1 Ramadan (19/2) dan 1 Syawal (21/3) hari ini. Beda awal puasa maupun hari raya.

Ucapan selamat hari raya, minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin, berseliweran di grup WhatsApp dan menjadi hiasan dinding media sosial. Ada yang hanya sebatas ucapan konvensional dari peninggalan rezim Orde Baru yang tak lekang oleh waktu. Ada yang dihias foto keluarga dan larik puisi.

Buku "Selamat Menunaikan Ibadah Puisi", kumpulan puisi Joko Pinurbo 

Joko Pinurbo (Jokpin), seorang penyair Jogja, pada tahun 2007 menulis puisi berjudul "Puasa" yang ia tujukan kepada Hasan Aspahani. Tidak panjang, hanya enam larik. Yang unik, meski judulnya puasa, tetapi isinya ucapan "selamat menjalankan ibadah puisi." Jokpin memandang puisi sebagai ibadah. 

Banyak interpretasi terhadap ibadah puasa yang dijalankan umat Islam selama satu bulan penuh, lalu merayakan Lebaran bernapas kapitalis dalam bentuk belanja barang yang serba baru dan makanan serba enak. Bahkan, beli takjil buka puasa serba lengkap kue dan es manis. Entah mengapa mesti begitu?

Tidak sedikit orang setelah menjalani puasa 29 atau 30 hari, bobot tubuhnya bukan turun, melainkan tambah berat. Badan yang memang sudah tambun bertambah melar. Akan halnya saya, pinggang yang sudah kecil, separuh puasa tambah kecil, akhirnya celana kedodoran semua, perlu sabuk pengaman.

Ibadah puasa Ramadan usai dijalani. Bersamaan merayakan hari raya Idulfitri, di belahan dunia lain, orang-orang merayakan hari puisi sedunia. Nulis dan baca puisi adalah cara lain untuk tetap sehat, apalagi berpuasa. "Shumu tashihhu, berpuasalah, niscaya kamu akan sehat." Hadis riwayat Ath-Thabrani.

Para ahli hadis umumnya menilai hadis ini dhaif (lemah) bahkan matruk. Tetapi, substansi manfaatnya sejalan dengan ilmu kesehatan modern dan pakar kesehatan memercayai dan menjadikannya salah satu upaya yang sebaiknya dilakukan para penyintas penyakit karena puasa adalah sebuah detoksifikasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...