Langsung ke konten utama

Setan Terkutuk Datang Lagi

'Safari jumat' saya ke masjid Ar-Raudhoh, Ragom Gawi Permai. Baru sekali ini saya masuk masjid satu ini. Struktur bangunan masjid membentuk ruang sambung menyambung karena ada bagian hasil penambahan setelah rehabilitasi.

Dua lantai dengan tiang yang merusak estetika ruang. Begitulah bila membangun masjid secara bertahap. Tapi, sepertinya ruangan di lantai atas cukup lega, bisa dimanfaatkan buat ruang khusus bagi jemaah wanita (ibu-ibu) pada acara pengajian.

Masjid Ar-Raudhoh Perumahan Ragom Gawi Permai 

Rencana semula saya akan ke arah kota. Tapi, karena mengantar istri belanja kue untuk acara "berbagi" pada sore ini, praktis waktu untuk salat jumatan jadi terpotong banyak dan mepet. Saya putuskan pilihan jumatan ke masjid Ar-Raudhoh di Ragom Gawi saja.

Memang masjid ini saya jadikan target untuk tempat 'safari jumat' di bulan Ramadan ini, tapi tidak hari ini. Berhubung waktu mepet, tak memungkinkan 'safari jumat' ke masjid di dalam kota, apa boleh buat, saya ke masjid Ar-Raudhoh, waktunya cukup terjangkau.

Untuk tadarus, bakda Subuh saya hanya bisa dapat setengah juz. Juz 29 baru selesai saya baca setelah salat jumatan. Juz 30 tertunda karena mengantar istri untuk potong rambut. Hujan deras mengiringi perjalanan pulang. Tubuh jadi menggigil, mengantuk.

Bakda salat Asar, saya coba untuk memulai membaca juz 30, tiap membaca satu ayat menguap... satu ayat menguap... lagi dan lagi. Persis seperti yang pernah saya alami tempo hari. Saya berhenti melanjutkan tadarus. Apadaya, baca juz 30 hanya dapat 2 lembar.

Setan terkutuk itu datang lagi rupanya. Sial kali, Bah. Mestinya saya khatam sore ini. Jadi tertunda gegara setan kehujanan berteduh di teras rumah minimalis kami dan menggoda tadarus saya. Kemarin-kemarin ke mana elo? Saya kuat baca hingga 2 juz nonstop.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...