Langsung ke konten utama

Dua Masjid Syuhada

Perjalanan ‘safari jumat’ hari ini, saya ke masjid jami’ Asy-Syuhada, Jl. Wolter Monginsidi No.17 C, kelurahan Durian Payung, kecamatan Tanjungkarang Pusat. Masjid berornamen cantik dibalut warna coklat, ini tidak jauh dari gerai mie ayam serta bakso jenama terpopuler di Bandar Lampung dan juga Central Plaza.

Sudah lama saya mengagumi masjid ini. Karena itu, masjid ini masuk list tempat ‘safari jumat’ di bulan Ramadan 1447 H ini. Pada mulanya saya tidak tahu nama masjid ini. Kendati sering lewat di depannya, saya tidak tergerak membaca nama masjid di depan, padahal sering mengunjungi gerai bakso di dekatnya.

Masjid Jami' Asy-Syuhada Durian Payung

Ketika takmir masjid mengumumkan keuangan (kas) masjid, tersebutlah nama Asy-Syuhada. Saya langsung membatin, berarti sudah dua masjid Asy-Syuhada saya jadikan tempat ‘safari jumat’ setelah sebelumnya pada masjid Jami' Asy-Syuhada Jl. Imam Bonjol, kelurahan Sumberejo, kec. Tanjungkarang Barat (3/1/2026).

Perihal kas masjid Asy-Syuhada Durian Payung tadi, menyiratkan bahwa masjid ini tidak kaya-kaya amat. Disebutkan saldo kas minggu lalu 5,2 juta kemudian pemasukan dari kotak infak masjid sekitar 1,6 juta sehingga ada saldo 6,8 juta, pengeluaran rutin untuk membayar gaji marbot dua orang sebesar 400 ribu.

Bukan itu saja, dikeluarkan pula untuk beli token listrik, beli cat, konsumsi peringatan Nuzulul Quran dan buka bersama berjumlah 3 jutaan sehingga saldo kas tersisa 3,8 juta. Sepertinya bukan pemasukan infak harian atau jumat yang kecil, melainkan ada pos pengeluaran rutin dan temporal (tak terduga) yang juga lumayan besar.

Jemaah salat Jumat di masjid Asy-Syuhada 

Sejatinya memang begitu. Uang masjid adalah uang umat, seyogianya tersalur untuk kemaslahatan umat. Bayangkan saldo kas masjid Jogokariyan Yogyakarta yang selalu NOL RUPIAH karena dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat di lingkungan masjid (anak yatim, fakir miskin, janda, dan kaum dhuafa, para musafir).

Bubar salat jumatan, sudah ada setitik dua titik bibit hujan turun di halaman masjid. Saya mulai memacu motor ke arah Karang (sebutan kernet angkot di masa lalu untuk kota Tanjungkarang) lalu membelok ke Jl. Imam Bonjol. Sampai Gunung Kucing hujan menderas, saya tepikan motor, berhenti untuk memakai jas hujan.

Tujuan akhir adalah toko kue Iman Jaya untuk membeli bekal berbuka puasa sore ini. sampai depan Iman Jaya, hujan sedang deras-derasnya. Usai pilih kue yang saya beli dan membayar ke kasir, saya pulang menerabas hujan. Sudah setengah basah, buat apa menunggu lama, bikin badan kedinginan. Sekalian hujan-hujanan.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...