Perjalanan ‘safari jumat’ hari ini, saya ke masjid jami’ Asy-Syuhada, Jl. Wolter Monginsidi No.17 C, kelurahan Durian Payung, kecamatan Tanjungkarang Pusat. Masjid berornamen cantik dibalut warna coklat, ini tidak jauh dari gerai mie ayam serta bakso jenama terpopuler di Bandar Lampung dan juga Central Plaza.
Sudah lama saya mengagumi
masjid ini. Karena itu, masjid ini masuk list tempat ‘safari jumat’ di bulan Ramadan 1447 H ini. Pada mulanya
saya tidak tahu nama masjid ini. Kendati sering lewat di depannya, saya
tidak tergerak membaca nama masjid di depan, padahal sering mengunjungi gerai bakso di dekatnya.
![]() |
| Masjid Jami' Asy-Syuhada Durian Payung |
Ketika takmir masjid
mengumumkan keuangan (kas) masjid, tersebutlah nama Asy-Syuhada. Saya langsung
membatin, berarti sudah dua masjid Asy-Syuhada saya jadikan tempat ‘safari
jumat’ setelah sebelumnya saya pernah jumatan di masjid Asy-Syuhada Jl. Imam
Bonjol, kelurahan Sumberejo, kecamatan Tanjungkarang Barat.
Perihal kas masjid
Asy-Syuhada Durian Payung tadi, menyiratkan bahwa masjid ini tidak kaya-kaya
amat. Disebutkan saldo kas minggu lalu 5,2 juta kemudian pemasukan dari
kotak infak masjid sekitar 1,6 juta sehingga ada saldo 6,8 juta, pengeluaran rutin untuk membayar gaji marbot dua orang sebesar 400 ribu.
Bukan itu saja, dikeluarkan
pula untuk beli token listrik, beli cat, konsumsi peringatan Nuzulul Quran dan buka
bersama berjumlah 3 jutaan sehingga saldo kas tersisa 3,8 juta.
Sepertinya bukan pemasukan infak harian atau jumat yang kecil, melainkan ada
pos pengeluaran rutin dan temporal (tak terduga) yang juga lumayan besar.
![]() |
| Jemaah salat Jumat di masjid Asy-Syuhada |
Sejatinya memang begitu. Uang
masjid adalah uang umat, seyogianya tersalur untuk kemaslahatan umat. Bayangkan saldo kas masjid Jogokariyan Yogyakarta yang selalu NOL RUPIAH karena dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat di lingkungan masjid (anak yatim,
fakir miskin, janda, dan kaum dhuafa, para musafir).
Bubar salat jumatan, sudah
ada setitik dua titik bibit hujan turun di halaman masjid. Saya mulai memacu
motor ke arah Karang (sebutan kernet angkot di masa lalu untuk kota Tanjungkarang)
lalu membelok ke Jl. Imam Bonjol. Sampai Gunung Kucing hujan menderas, saya tepikan
motor, berhenti untuk memakai jas hujan.
Tujuan akhir adalah toko kue
Iman Jaya untuk membeli bekal berbuka puasa sore ini. sampai depan Iman Jaya, hujan
sedang deras-derasnya. Usai pilih kue yang saya beli dan membayar ke
kasir, saya pulang menerabas hujan. Sudah setengah basah, buat apa menunggu
lama, bikin badan kedinginan. Sekalian hujan-hujanan.


Komentar
Posting Komentar