Langsung ke konten utama

Pecel Mentah

Dua anak mantu berangkat ikut arus balik. Anak sulung dan istrinya balik maning ke Depok, naik DAMRI yang jadwal pemberangkatan pukul 09.00, tapi pukul 08.43 bus mulai bergerak meninggalkan pool DAMRI stasiun Tanjungkarang. Saya berdua istri melepas keberangkatan mereka dengan pelukan perpisahan. Sampai jumpa nanti.

Tidak terlampau kangen sih karena baru pada bulan Oktober 2025 lalu ketemuan di Surabaya kemudian nyepur bareng ke Jakarta terus ke Depok. Anak ragil masih nanti mendekati akhir bulan balik ke Jakarta, ada jatah wfh tiga hari jadi bisa agak lama di rumah. Dengannya, pada bulan Oktober lalu juga ketemuan.

Karedok yang gak begitu lengkap 

Ini hari adalah H+3 Lebaran, arus balik mulai ramai, setidaknya di stasiun Tanjungkarang yang tadi saya lihat. Tidak dimungkiri di stasiun Gambir dan Pasar Senen (Jakarta) atau stasiun Gubeng dan Pasar Turi (Surabaya) dan bandara di mana pun begitu adanya karena masa libur Lebaran + cuti bersama habis.

Pulang dari stasiun, sembari menyusuri jalan saya awasi kalau saja ada yang jual pecel atau ketoprak. Pengin menyegarkan lambung dengan sayur setelah dihantam protein tinggi dengan opor ayam dan rendang sapi. Beruntung ada yang jual, tapi bukan pecel, melainkan karedok. Ya, sudah. Jadilah.

Kesibukan di pool DAMRI Tanjungkarang 

Karedok itu pecel 'mentahan'. Yang benar-benar lengkap itu ada petai cinanya, nggak cuma kacang panjang, timun, kol, dan toge. Dahulu, waktu saya kuliah di Malang, karedok ini jadi makanan pilihan pengganti nasi kare ayam biar nggak karbo dan protein tinggi melulu. Begitulah keseimbangan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...

Kado Puisi

Pagi tadi pas membuka facebook , grup "Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok" mengunggah pengumuman kontributor puisi kado ulang tahun 75 untuk penyair senior, Mas Adri Darmadji Woko, yang akan berulang tahun pada 28 Juni 2026 mendatang. Hingga limit waktu ( deadline ) menghimpunkan puisi, terbilang ada 94 penulis puisi (pemuisi, penyair) yang mengirimkan puisi untuk selanjutnya dibungkus jadi kado terindah tuk hari spesialnya penyair sepuh  Mas Adri Darmadji Woko. Sayalah orangnya di urutan 94. Sosok penyair senior Adri Darmadji Woko  Kado puisi. Begitu narasinya. Daripada kado dalam bentuk material yang bisa musnah setelah momen ulang tahun berlalu, lebih afdal kado dalam bentuk buku. Isinya, ialah testimoni atau pendapat kawan-kawan yang berisi kenangan paling mengesankan. Kenangan mengesankan itu yang oleh kawan-kawan diungkapkan dalam bentuk tulisan bertajuk "pesan dan kesan" yang tak mesti berisi hal yang bernuansa suka cita, tetapi ada juga yang bernuansa duka l...