Langsung ke konten utama

Masjid Ujung Jalan

Melewati jalan dua jalur BKP bila melempar pandangan ke arah kiri pada jalan yang di G-maps nggak ada namanya, mata akan tertumbuk pada menara sebuah masjid. Saya membatin, besok-besok bisa dijadikan tempat ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Nah, siang ini saya mengejawantahankan perasaan batin itu, menjadikan masjid 'ujung jalan' ini tempat mendirikan salat Zuhur sebagai pengisi kegiatan ‘safari ramadan’.

Sampai halaman masjid, seorang bapak-bapak sedang mengepel teras. Saya parkirkan motor dan memasang kunci pengaman di roda. Hingga bubar salat tidak ada tambahan motor yang parkir. Berarti yang hendak salat berjemaah adalah murni warga perkampungan sekitar masjid. Yang berarti juga tidak ada juru mudi ojol yang mampir untuk ikut berjemaah seperti masjid lainnya.

Masjid Al- Ridho di ujung tikungan jalan 

Kendati lurus di ujung jalan yang di G-maps tidak ada namanya itu, masjid yang disemati nama Al-Ridho, ini menerakan alamat Jalan Imam Bonjol Gang Persada, Kemiling, Bandar Lampung. Mungkin karena tidak ada namanya di G-maps, itu sehingga jalan itu tidak layak dijadikan alamat. Kemudian rumah-rumah yang ada di sepanjang sisinya, menggunakan alamat apa dong?

Masjid ini tidak besar dan tidak pula kecil. Dari taksiran saya, mungkin berkapasitas kurang lebih 100-an orang. Tadi saat akan memulai salat, saya tidak leluasa untuk menjepretkan kamera karena seperti ditunggui dengan melihat ke arah saya. Saya tanggap saja dan bersegera cepat-cepat masuk ke barisan shaf daripada dicurigai hendak ngapa-ngapa. Salat pun berlangsung khidmat.

Saya juga tak leluasa hendak menghitung berapa orang jemaah salat Zuhur tadi. Tapi, dibanding semua masjid yang sudah saya kunjungi dan saya ceritakan pada blog sebagai masjid yang ‘kurang makmur’, masjid Al- Ridho ini termasuk cukup ‘makmur’ bila jemaah tadi lebih dari 20 orang. ‘Makmur’ dalam arti jumlah saldo kas, masjid ini mencatatkan angka 20 juta 808 ribu sekian ratus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...

Kado Puisi

Pagi tadi pas membuka facebook , grup "Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok" mengunggah pengumuman kontributor puisi kado ulang tahun 75 untuk penyair senior, Mas Adri Darmadji Woko, yang akan berulang tahun pada 28 Juni 2026 mendatang. Hingga limit waktu ( deadline ) menghimpunkan puisi, terbilang ada 94 penulis puisi (pemuisi, penyair) yang mengirimkan puisi untuk selanjutnya dibungkus jadi kado terindah tuk hari spesialnya penyair sepuh  Mas Adri Darmadji Woko. Sayalah orangnya di urutan 94. Sosok penyair senior Adri Darmadji Woko  Kado puisi. Begitu narasinya. Daripada kado dalam bentuk material yang bisa musnah setelah momen ulang tahun berlalu, lebih afdal kado dalam bentuk buku. Isinya, ialah testimoni atau pendapat kawan-kawan yang berisi kenangan paling mengesankan. Kenangan mengesankan itu yang oleh kawan-kawan diungkapkan dalam bentuk tulisan bertajuk "pesan dan kesan" yang tak mesti berisi hal yang bernuansa suka cita, tetapi ada juga yang bernuansa duka l...