Langsung ke konten utama

Masjid Ujung Jalan

Melewati jalan dua jalur BKP bila melempar pandangan ke arah kiri pada jalan yang di G-maps nggak ada namanya, mata akan tertumbuk pada menara sebuah masjid. Saya membatin, besok-besok bisa dijadikan tempat ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Nah, siang ini saya mengejawantahankan perasaan batin itu, menjadikan masjid 'ujung jalan' ini tempat mendirikan salat Zuhur sebagai pengisi kegiatan ‘safari ramadan’.

Sampai halaman masjid, seorang bapak-bapak sedang mengepel teras. Saya parkirkan motor dan memasang kunci pengaman di roda. Hingga bubar salat tidak ada tambahan motor yang parkir. Berarti yang hendak salat berjemaah adalah murni warga perkampungan sekitar masjid. Yang berarti juga tidak ada juru mudi ojol yang mampir untuk ikut berjemaah seperti masjid lainnya.

Masjid Al- Ridho di ujung tikungan jalan 

Dengan menjangkau masjid di Desa Kurungan Nyawa, ini bisa dikatakan ‘sedikit menjauh’ perjalanan ‘safari ramadan’ saya di hari terakhir puasa Ramadan tahun 1447 H ini. Idealnya memang melakukan itikaf, tetapi rupanya belum bisa melakukannya. Yang jadi masalah, terutama cuaca yang tak bisa ditebak. Siang sewaktu melakukan perjalanan itikaf, pulang sore turun hujan.

Kendati lurus di ujung jalan yang di G-maps tidak ada namanya itu, masjid yang disemati nama Al-Ridho, ini menerakan alamat Jalan Imam Bonjol Gang Persada, Kemiling, Bandar Lampung. Mungkin karena tidak ada namanya di G-maps, itu sehingga jalan itu tidak layak dijadikan alamat. Kemudian rumah-rumah yang ada di sepanjang sisinya, menggunakan alamat apa dong?

Masjid ini tidak besar dan tidak pula kecil. Dari taksiran saya, mungkin berkapasitas kurang lebih 100-an orang. Tadi saat akan memulai salat, saya tidak leluasa untuk menjepretkan kamera karena seperti ditunggui dengan melihat ke arah saya. Saya tanggap saja dan bersegera cepat-cepat masuk ke barisan shaf daripada dicurigai hendak ngapa-ngapa. Salat pun berlangsung khidmat.

Saya tak leluasa hendak ngitung berapa orang jemaah salat Zuhur tadi. Tapi, dibanding semua masjid yang sudah saya kunjungi dan saya ceritakan pada blog sebagai masjid yang ‘kurang makmur’, masjid Al- Ridho ini termasuk cukup ‘makmur’ bila jemaah tadi lebih dari 20 orang. ‘Makmur’ dalam arti jumlah saldo kas, masjid ini mencatatkan angka 20 juta 808 ribu sekian ratus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...