Langsung ke konten utama

Masjid Nurul Huda

Sebelumnya, pernah saya salat jumat di masjid Nurul Huda, Jalan Pagaralam, Gunung Agung, Kemiling atau lebih akarb disebut Gang PU karena ada komplek perumahan pegawai PU di situ. Tepatnya hari Jumat (19/12/2025) sekalian mengambil banner yang hendak saya bawa ke Jambi mengikuti Festival Sastra Etnik Nusantara & peluncuran buku antologi puisinya.

Masjid ini dulunya kecil, tidak jauh dari rumah teman yang sudah dijualnya dan berubah jadi rumah makan Yu Sari. Kemudian dibangun menjadi besar, luas, dan megah dengan dua menara di sayap kanan (di bagian sudut kanan barat dan timur). Konstruksi bangunan masjid ini menggunakan rangka baja, bukan tiang cor bertulang. Jadi, penyangga kubah kokoh tanpa tiang.

Masjid Nurul Huda Gang PU 

Hari ini saya jadikan masjid ini tempat ‘safari ramadan’ salat Zuhur berjemaah. Tidak sampai dua shaf, tetapi banyaknya jemaah kurang lebih 40 orang dari warga sekitar dan datang dari jauh atau yang mampir karena kebetulan saat lewat sudah masuk waktu salat Zuhur. Saat salat jumatan pun begitu, kebanyakan datang dari tempat yang jauh demi meraih Jumat berkah banyak.

Wajah rembulan kian tirus, tubuhnya kurus (menipis) bukan karena ikut puasa, melainkan karena Ramadan hampir tiba di pengujung hari menjelang Idulfitri. Juga jalanan kian macet lalu lalang kendaraan mereka yang hendak ke mal belanja baju Lebaran atau yang hendak berangkat mudik ke kampung halaman, pulang ke asal muasal diri bersilaturahim dengan para jiran tetangga.

Jemaah salat Zuhur masjid Nurul Huda 

Keluarga kami tak mudik ke mana-mana. ke kampung saya tidak, ke kampung istri juga tidak. Anak yang jadi ‘diaspora’ di Betawi sudah pulang, membersamai buka puasa dan makan sahur. Menikmati hujan deras yang begitu murah di tanah Tapis Berseri dan begitu mahal di tempat mereka merantau. Kembali menikmati lagi semua klangenan, nikmatnya masakan ibu mereka.    


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...

Kado Puisi

Pagi tadi pas membuka facebook , grup "Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok" mengunggah pengumuman kontributor puisi kado ulang tahun 75 untuk penyair senior, Mas Adri Darmadji Woko, yang akan berulang tahun pada 28 Juni 2026 mendatang. Hingga limit waktu ( deadline ) menghimpunkan puisi, terbilang ada 94 penulis puisi (pemuisi, penyair) yang mengirimkan puisi untuk selanjutnya dibungkus jadi kado terindah tuk hari spesialnya penyair sepuh  Mas Adri Darmadji Woko. Sayalah orangnya di urutan 94. Sosok penyair senior Adri Darmadji Woko  Kado puisi. Begitu narasinya. Daripada kado dalam bentuk material yang bisa musnah setelah momen ulang tahun berlalu, lebih afdal kado dalam bentuk buku. Isinya, ialah testimoni atau pendapat kawan-kawan yang berisi kenangan paling mengesankan. Kenangan mengesankan itu yang oleh kawan-kawan diungkapkan dalam bentuk tulisan bertajuk "pesan dan kesan" yang tak mesti berisi hal yang bernuansa suka cita, tetapi ada juga yang bernuansa duka l...