Langsung ke konten utama

Sedikit Menjauh

Saya anggap pernah salat di semua masjid BKP. Di dalam rangka menggiatkan ‘safari ramadan’ khusus di waktu Zuhur berpindah-pindah dari masjid ke masjid, saya menjangkau masjid-masjid di luar BKP, tapi kebanyakan di lingkup kecamatan Kemiling. Sementara ‘safari jumat’ saya upayakan ke masjid yang jauh di luar Kemiling, di mana pun itu tempatnya.

Di hari terakhir ‘safarai ramadan’, semula saya pengin ke masjid sekitar Kedaung, tapi karena mepet masuk waktu Zuhur, saya sekenanya masjid apa dan di mana yang menara atau wuwungannya tertangkap pandang mata, itulah yang saya datangi. Dekat pintu gerbang perbatasan Kabupaten Pesawaran dan Kota Bandar Lampung, mata saya menumbuk wuwungan masjid.

Wuwungan masjid Baitul Amanah yang menumbuk mata memantik mendatanginya 

Saya ngegas motor mendekatinya. Setelah memarkir motor dan masuk ke dalam masjid, azan baru hendak dikumandangkan. Di dalam masjid panitia pengumpul zakat fitrah baru saja merampungkan pembagian beras untuk diserahkan kepada mustahik zakat. Tumpukan kantong plastik warna merah berisi berasa berjejer rapi, siap untuk didistribusikan pada mustahik siang ini juga.

Zakat fitrah siap didistribusikan ke mustahik

Masjid yang terletak di Margorejo Kurungan Nyawa, ini bernama Baitul Amanah. Terdapat PAUD dan TK di situ. Lumayan besar masjid ini, lebar masjid ini saya taksir sama seperti masjid kami di Blok P, tapi lebih panjang masjid kami. Dinding depan dan pengimaman dilapisi keramik berwarna hijau tua, terkesan nuansa begitu menyejukkan serasi dengan karpet berwarna senada.

Dinding yang dilapisi keramik hijau tua 

Dengan menjangkau masjid di Desa Kurungan Nyawa, ini bisa dikatakan ‘sedikit menjauh’ perjalanan ‘safari ramadan’ saya di hari terakhir puasa Ramadan tahun 1447 H ini. Idealnya memang melakukan itikaf, tetapi rupanya belum bisa melakukannya. Yang jadi masalah, terutama cuaca yang tak bisa ditebak. Siang sewaktu melakukan perjalanan itikaf, pulang sore turun hujan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...