Langsung ke konten utama

Postingan

Pasora

ilustrasi, warga berburu menu berbuka puasa. (foto: Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta). Pasora –pasar sore Ramadan– hanya muncul saat bulan Ramadan, sesuai namanya. Masing-masing daerah beda nama atau sebutan. Di Banjarmasin disebut “pasar wadai” –wadai artinya kue–. Yang dijajakan pedagang rupanya tidak hanya kue. Ikut perkembangan, guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang menginginkan kepraktisan yang tidak mau sibuk di dapur, pasora kemudian juga menjajakan sayur matang aneka rupa berikut bermacam pilihan lauk-pauk pemenuh selera. Ya, kan, selera orang berbeda-beda, ada yang suka pedas ada yang nggak . Ada yang pengin berkuah ada yang sukanya keringan. Ada yang demen bersantan ada yang alergi sehingga mintanya kuah bening saja. Semua ada di lapak pedagang. Di kota Tapis Berseri –Bandar Lampung– dari barat ke timur, utara ke selatan, ada titik-titik tempat dijadikan pasora dadakan, kais rezeki dadakan. Dahulu di Lapangan Merah Enggal, tetapi sekarang adanya tinggal di Jl. Majapa...

Pejuang Cinta

ilustrasi, pejuang cinta. olah gambar dari Apple Music. Saya gagal membaca buku “Seni Mencintai” Erich Fromm sampai selesai. Isinya bukanlah seperti buku resep masakan yang menguraikan petunjuk meracik sebuah menu, melainkan uraian yang bahasanya lumayan tinggi mendekati filsafat. Jadi, kalau membayangkan akan menemukan petunjuk tentang seni atau cara mencintai, yakinlah akan mengalami kekecewaan. Siapa yang berharap menemukan petunjuk mudah dalam seni mencintai, tidak ada dalam buku ini. Dengan bahasanya yang tinggi, buku ini hanya ingin mengatakan bahwa cinta bukanlah suatu perasaan yang dapat dengan mudah dinikmati siapa saja, baik yang sudah dewasa maupun belum. Karena itu, berhasil atau gagal, niscaya. Buku ini sekadar meyakinkan pembaca bahwa segala upayanya untuk cinta, berhasil atau gagal peluangnya sama besar. Kecuali jika dia berusaha mengembangkan kepribadian  secara total   untuk meraih sesuatu dengan cara memberi sesuatu. Ya, kata Erich Fromm,  “Sebelum...

PPT dah Puber

ilustrasi gambar milik Liputan6.com Pada Ramadan tahun ini saya baru menyadari ternyata PPT (Para Pencari Tuhan), sinetron besutan Dedi Mizwa di SCTV, sudah jilid ke-17. Usia 17 tahun pada seseorang, pertanda dirinya masuk usia remaja. Sudah berhak memiliki KTP. Jika sudah ber-KTP, maka sudah bisa ikut ujian untuk pembuatan SIM. Ujian SIM yang dahulu absurd , kata anak saya nggak masuk akal karena zig-zag angka 8, kini dah dihilangkan dan diganti dengan cara yang lebih masuk akal dan simpel. Jika sudah mengantongi SIM, maka seseorang bisa bebas menggunakan kendaraan bermotor di jalan raya dengan tetap mematuhi peraturan dan taat rambu-rambu lalau lintas. Sudah bisa masuk DPT pemilu, menggunakan hak politik, hak suara. Usia 17 tahun pada seseorang menunjukkan pasca-pubertas. Muncul bau badan yang khas, tumbuh rambut di area kemaluan. Bila pada pria ditandai tumbuhnya jakun dan mimpi basah, bila pada wanita tumbuh payudara dan menstruasi. Menganalogikan PPT yang sudah berjilid 17...

Hari Tidur Sedunia

ilustrasi gambar milik Hypeabis Saya punya problem tidak bisa berpindah tempat tidur. Problem nyelenéh ini sudah saya tulis dan posting di blog ini juga. Di twitter (X) ada artikel tentang Hari Tidur Sedunia atau World Sleep Day . Nah, ini juga nyelenéh. Siapa, ya, pencetusnya. Jadi, hari tidur sedunia pada tahun ini jatuh pada hari Jumat, 15 Maret. Perayaannya setiap tahun selalu berbeda-beda tanggalnya, tetapi tetap di bulan Maret. Maka, tahun ini jatuh pada tanggal 15 Maret. Dilansir dari  https://worldsleepday.org/ Uniknya, tema World Sleep Day tahun ini adalah “Sleep Equity for Global Health atau Kesetaraan Tidur untuk Kesehatan Dunia”. Nah, tidur pun dibutuhkan kesetaraannya. Ada yang bisa tidur nyenyak, ada yang insomnia, ini belum setara. Seperti halnya makan, tidur adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi setiap hari. Berapa lama kita harus tidur setiap hari? Idealnya 8 jam. Tetapi tiap orang tidak tentu dosisnya, ada yang cukup 6 jam bahkan 4—5 jam saja bisa. ...

Buku Esai Itu

Ilustrasi, image source: Pahamify Kemarin siang, pukul 12:58, selagi saya tadarus bakda salat zuhur, masuk pesan wasap dari Jauza, berkaitan dengan buku hasil lomba menulis esai ILPN yang ditaja oleh DKL bekerja sama dengan Perpusnas bulan Juli 2023. Woi , wes suwi iki . Saya pikir buku sedang dalam proses pencetakan dan penerbitan oleh Perpusnas, gak taunya baru mau diajukan ISBN dan karena itu dibutuhkan tandatangan di atas materai 10000 pada form yang harus diisi lengkap. Oalah , yak opo , Rek ! Oleh Jauza, saya yang diminta mengisi form tersebut sekaligus membubuhkan tandatangan di atas materai. Saya tutup kitab suci yang sedang saya baca kemudian melepas sarung mengganti dengan celana, lalu gegas ke gerai fotokopi. Saya buka form di layar PC lalu menuliskan apa yang diminta sesuai keterangan tertera di situ. Kemudian saya print dan menempelkan materai serta membubuhkan tandatangan. Saya scan  lalu mengirimkannya ke wasap Jauza pukul 15:53. Ada enam tulisan sudah...

Katebelece

Postingan yang lalu (kemarin) ditutup dengan kata kunci  katebelece . Postingan sore hari ini menggunakan kata kunci tersebut sebagai judul , sebagai lanjutan dari yang kemarin menjadi ending . Bukan mustahil akan berlanjut pula. Masih adakah katebelece ? Mungkin sudah tidak ada lagi. Atau ada dengan sembunyi-sembunyi. Tetapi, faktanya, praktik KKN (kolusi, korupsi, nepotisme) masih terjadi. Hanya saja, cara yang dilakukan tidak lagi menggunakan katebelece . Sejak Undang-Undang No.28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN diberlakukan sah, katebelece bersalin baju. Istilah lain “surat sakti” itu tidak lagi digunakan sebagai alat KKN. Dicarilah cara lain yang agak silent . Di masa lalu, pada era Orde Baru dulu, katebelece begitu sakti mandraguna. Hubungan kekerabatan dan kedekatan personal adalah fondasi kokoh tegaknya bangunan bernama “kolusi-korupsi-nepotisme. Kurun waktu rezim Suharto berkuasa. Proyek apa pun, di tangan seorang pejabat, b...

Ujian Kesabaran

Sejumlah warga melihat batang pohon yang memasuki kawasan permukiman warga usai banjir bandang, di Pesisir Selatan, Sumbar. (foto: detiksumbar.com/Istimewa) Seperti sudah diperingatkan BMKG, Februari–Maret ini puncak musim penghujan, agar lebih waspada. Dan bencana pun terjadi di mana-mana, melibas harta benda  – apa saja – , menelan nyawa. Ketidakwaspadaan dan hajaran bencana kelewat dahsyat, itu yang menjadi penyebabnya. Sebagian wilayah Kota Bandar Lampung kelelap. Rancaekek dihantam puting beliung. Sumatra Barat baru saja dihantam banjir bandang. Kayu gelondongan bahkan batu sebesar gajah hanyut menghantam bangunan, 32 korban jiwa tercatat sebagai penghias berita. Duka kita semua. Di sepanjang Pulau Sumatra dari Aceh hingga Lampung terbentang bukit barisan yang di tempat-tempat tertentu dieksploitasi menjadi ladang, kebun kopi, kebun sawit, dan bangunan permukiman. Akibatnya hutan jadi gundul, tanah bukit rentan longsor. Seperti yang kejadian. Banjir bandang yang terjadi ...