Langsung ke konten utama

Postingan

Bila Itu KehendakNya

jalan tol yang mulus dan lurus menggoda untuk memacu kendara dengan kecepatan maksimal. Microsleep berakibat fatal, kecelakaan terjadi tiba-tiba. (foto: koleksi pribadi) Takdir Allah Swt, rencana Tuhan, skenario ’yang di atas’, atau apa pun istilahnya, tidak tertebak dan tidak pula bisa dielak. Sedianya istri saya dan keluarga mbak Sas memang akan berangkat ke Pacitan pada Sabtu (4/12) untuk menengok Ibu yang dalam dua tahun ini tergolek sakit. Tampak lemah tak berdaya lantaran usia yang sepuh. Takdir Allah rupanya menyegerakan realisasi rencana itu. Rabu (1/12) pagi Allah Swt memanggil beliau pulang ke HaribaanNya. Mbak Sas  hunting tiket pesawat ternyata habis, lagi pula pesawat ke Jogja adanya pukul 17 sore dan mendarat pukul 19 malam. Satu-satunya jalan adalah bawa mobil, anak si mbak terpaksa men- driver -in sendiri. inilah peta jarak yang ditempuh (foto: google) Menempuh Bandar Lampung—Solo (767,9 Km, 11 jam 11 menit) dan Solo—Pacitan (108,5 Km, 2 jam 34 menit). Meski d...

Lepas Masker Tuman

ilustrasi gambar membuang masker bekas pakai. (foto: CNNIndonesia) Hujan sedang ranum-ranumnya, menggugurkan derainya. Akan memasuki puncak musim pada Januari—Februari nanti. Musim libur segera tiba, minggu-minggu ini murid SD, pelajar SMP, dan siswa SMA sedang bergelut dengan soal ujian semester. Sayangnya libur nataru terasa ”tak enak” dinikmati karena akan diberlakukannya PPKM Level 3. Kalau liburan setelah pembagian Buku Rapor, anak-anak tak ke mana-mana berarti kan sama saja boong . Sudah sekolah daring dari rumah dan tatap muka terbatas di sekolah, eh giliran liburan ya tetap di rumah saja. Ini mah namanya podo karo tagar #dirumahaja yang diapungkan sejak awal pandemi Covid-19 merebak, Maret 2020. Sudah suntuk belajar daring , kejedut suntuk liburan tak keluar ke mana-mana. Apatah lagi hasil ujian yang tak memuaskan, nilai rapor jeblok sehingga mendapat sanksi dari orang tua berupa hukuman tidak boleh keluar rumah. Kan kasihan betul anak-anak yang terkurung terus menerus...

Bebas Masker

Namanya Muharto, orang Krui. Saya appreciate dan respeck sekali karena setiap salat jumat ia selalu mengenakan masker. Sejak saya menyandang predikat double vaxxed , terbit keberanian untuk melepas masker bila jumatan. Alasan demi kewaspadaan dan masih lumayan banyak jemaah yang pakai masker, keberanian itu saya tunda dulu lah . Namun, semakin ke sini semakin sedikit saja yang memakai masker. Semakin sedikit orang-orang minoritas di dalam masjid setiap jumat. Betapa tidak enaknya jadi warga minoritas, di dalam menegakkan protokol kesehatan 3M ini saya betul-betul menghayati betapa tersanderanya perasaan orang yang terselip sendiri di tengah keramaian. Dulu di RT kami ada dua keluarga nonmuslim. Yang satu rumahnya tepat di dekat masjid, hanya dipisahkan jalan. Tak tahan terhadap ”kegaduhan” TOA masjid setiap azan berkumandang, lebih-lebih waktu subuh saat sedang enak-enaknya ngorok , akhirnya dia jual rumah dan pilih ngontrak berpindah-pindah. Sekarang entah di mana. Saat mereka...

Siapa (tak) Peduli

Angkot yang bertahan meniti zaman. Bemper kopong, plat nomor mbuh , knalpot racing.  Di sebuah obrolan via video call pada suatu malam, anak kami yang jadi pekerja perantau di Surabaya, bertanya apakah masih ada angkot di Bandar Lampung, kota yang ditinggalkannya setamat SMA tahun 2012 karena kuliah di Solo dan ke Surabaya tahun 2016. ”Ada satu dua,” jawabku. ”Apakah masih ada penumpangnya,” lanjutnya. ”Masih ada, sih , dari berbagai kalangan,” jelasku. Saya jawab ada itu karena faktanya memang masih sering melihatnya terseok-seok menyusuri jalan ZA. Pagaralam, Teuku Umar, dan Imam Bonjol. Sehabis mengantar istri ke rumah mbak  Sas di dekat SMA Gajahmada, karena mereka hendak pulang ke Pacitan sehubungan Ibunda yang berpulang ke Rahmatullah, Rabu pagi kemarin, jadinya mereka akan pulang bersama-sama satu mobil, berangkat sekira pukul 11.06 WIB. Pulang dari sana, menyusuri Jalan Kiyai Maja, motor saya mengiring beberapa angkot trayek Way Kandis—Terminal Pasar Bawah. Angk...

Selamat Jalan, Ibu

Selamat jalan Ibu/Embah Uti/Uyut Uti kami yang tercinta, Hj. Soemarti binti Moehammad Soekemi (Lahir 4 Juli 1921, Wafat 1 Desember 2021). Maafkan kami yang jauh bila tidak sempat menyaksikanmu dari dekat saat berangkat menghadap Rabb. Lahir dan besar di zaman penjajahan kompeni, tentu betapa berat perjuanganmu. Selepas menikah, demi menghindari intaian musuh bangsa sehingga sempat menyelamatakan diri ke Singapura (tahun 1942), karena dalam dirimu mengalir titisan darah keturunan orang Johor. Demi cinta Tanah Air jua, ketika lumayan reda riak pertikaian bangsa pribumi dengan kompeni sehingga memutuskan pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi. Melahirkan satu per satu anak dan membesarkannya dengan kesederhanaan hidup di masa awal kemerdekaan. Dalam usiamu yang panjang, Ibu tentu begitu bahagia menyaksikan kesuksesan anak-anak yang dulu dibesarkan dengan hasil berladang dan sawah tadah hujan. Allah Maha Pemurah, rezekinya tercurah meski hanya umpama hujan gerimis, bukan yang mengalirkan ban...

Ad-Duha (dan simcard kebalik)

Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalahan), itu salah satu dari sumpah Tuhan Allah Swt. Yang lainnya, ada demi malam (Q.S. Al-Lail : 1), demi masa (Q.S. Al- Ashr : 1), demi subuh (Q.S. at-Takwir : 18), demi fajar (Q.S. Al-Fajr : 1). Mengapa Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk-Nya? Sebenarnya pertanyaan ini tidak patut dilontarkan. Tetapi, bila sebatas ingin merenungkan, bolehlah dikaji apa sesungguhnya hikmah di balik sumpahnya Allah Swt yang demikian. Allah Swt, Tuhan semesta alam, adalah pencipta, pemilik, pengatur, dan penguasa semua makhluk ciptaan-Nya, karena itu Allah Swt punya wewenang penuh untuk melakukan apa saja yang Allah kehendaki terhadap makhluk-makhluk-Nya. Allah Swt memiliki sifat Al ‘Alim (maha berilmu) dan Al Hakim (maha bijaksana). Bertolak dari dua sifat mulia tersebut, maka Allah Swt dalam mengatur dan menguasai jagat raya dan seisinya ini sangat andal dan tak sedikit pun kezaliman. Begitulah Allah Swt, Rabb semua makhluk ciptaan-Nya. Lain ha...

Eneng-Eneng Wae...

” Eneng - eneng Wae ...,” seloroh istriku ketika simcard yang tertanam di androidnya tidak bisa mengirim atau menerima SMS. Diisi pulsa kok tidak ada notifikasi pulsa masuk. Notifikasi dari SMS Banking setiap kali ada transaksi keuangan di rekening banknya juga tak ada. Pertanda apa, pikirku. Biar tahu dan ketahuan, saya buka dan lepas simcardnya kemudian dipasangkan di hp jadul. Dicek via *123# ternyata ada pulsa masuk. Oke, berarti no have masalah. Simcard dikembalikan ke android eh malah nggak kebaca. Seperti tidak dipasang simcard . Waduh... kacau balau jadinya. Berabe bener. Alamat tak akan bisa berkomunikasi via WhatsApp dan menggunakan androidnya untuk kegiatan belajar jarak jauh dengan siswanya di sekolah. Kalau di rumah bisa ketolong oleh wifi. Mulailah hunting pilihan hp apa yang akan dibeli jika harus berganti hp. Terpaksa gak terpaksa. Tetapi, dipikir-pikir barang elektronik atau apa pun punya siklus hidup ( life cycle ). Kalau sudah sampai waktu masa hidupnya habi...