Langsung ke konten utama

Postingan

Setia Mengabdi

Pada masanya dulu, angkutan kota (angkot) menjadi ”raja jalanan”  beradu cepat satu dengan yang lain, berebut penumpang. Keluar kandang dari subuh buta dan baru kembali ngandang hampir tengah malam. Itu rutinitas kerja para supir angkot. Demi apa? Demi setoran ke pemilik angkot. Banyaknya angkot yang melaju di jalanan, tentu saja membuat sedikitnya penghasilan para supir. Setelah dikurangi setoran dan mengisi penuh tanki BBM, acapkali hasil yang mereka bawa pulang hanya cukup untuk mengebulkan dapur satu hari, hampir tak ada yang bisa disisihkan untuk ditabung. Demi merebut simpati penumpang, angkot menghias diri dengan asesoris menarik dan raung musik cadas yang menggelegar memekakkan telinga. Kini, di tengah majunya teknologi, ternyata masih ada satu dua angkot beroperasi, mengejar peruntungan nasib. Adakah penumpang yang masih sudi menggunakan jasa angkot? Masih ada satu dua. Selebihnya, penumpang tinggal memesan taksi online lewat aplikasi di gadget . Menggunakan taksi onli...

Koran Besar pun Terimbas Korona

Kamis, 23 Juli 2020, saya beli koran Kompas di Jalan Malioboro. Kok tipis? Saya lalu tanya ke pengecer koran yang duduk di bangku sebelah tumpukan koran yang ia ecerkan, yang memang tidak banyak. Hanya beberapa eksemplar terdiri dari Kedaulatan Rakyat , Radar Jogja , Republika , Jawa Pos , dan Kompas . ”Memang segini , ya? Biasanya tebal?,” tanya saya menyadari kok koran itu tipis, tidak seperti biasanya. ”Memang segitu, sudah lama, sejak ada korona ini,” jawabnya.  Duh, Gusti. Koran sebesar Kompas , tinggal 16 halaman.  Saya bawa koran ke tempat duduk semula, di dekat penjual Lumpia Samijaya. Sambil ngopi dan ngemil lumpia di situ, saya celingak-celinguk memastikan kalau ada pengecer koran lewat. Selalu begitu saya. Tak bisa lepas dari bacaan. Di dalam tas yang selalu terselempang di pundak, mesti ada paling tidak satu buah buku ikut serta. Gunanya untuk teman jenuh, terutama ketika sedang menunggu sesuatu. Misalnya sedang mengurus sesuatu, seperti bayar pajak kendaraan di S...

Masker dan Kondom

ilustrasi orang mengenakan masker merah putih (foto: google) Selama ini, WHO meyakini bahwa virus corona menular melalui  droplet atau cipratan dari orang yang bersin atau batuk, dan belum melalui udara atau airborne . WHO bersikukuh pada keyakinannya tersebut. WHO beranggapan droplet tidak terlalu lama berada di udara, tetapi langsung jatuh ke permukaan tanah atau menempel ke benda yang beredekatan dengan sumber cipratan. Oleh sebab itu, imbauan paling utama WHO adalah untuk sering-sering mencuci tangan. Beberapa kelompok peneliti kemudian memberikan bukti bahwa virus corona bisa menular melalui udara. Upaya kelompok peneliti untuk meyakinkan WHO dengan bukti bahwa virus corona dapat disebarkan oleh partikel-partikel kecil yang melayang di udara pun berbuah manis. WHO akhirnya mengakui, bukti-bukti yang disampaikan para peneliti tak bisa  dikesampingkan.  Perubahan paradigm WHO ini akan lebih menyelaraskan protokol kesehatan. Sebelum ini WHO masih menyangkal bukti-bu...

”Konser di Surga”

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seseorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. [Q.S. Al-Anbiyaa’ (21) : 34-35] تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ Maha suci Allah yang di Tangan-Nya lah segala Kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi...

#MaturNuwunGustiAllah

Ardha Krisna Putra bersama Lord Didi Kempot (credit foto: jateng.idntimes.com) Dalam acara ’Rosi’ di Kompas TV, Kamis (7/5/2020), spesial even Tribut to Didi Kempot Godfather of Broken Heart, untuk mengenang Didi Kempot, Rosi Silalahi mengungkap bahwa konser amal #darirumah bertajuk Tresno Ambyar di Kompas TV dalam aksi menggalang dana untuk Covid-19, Sabtu (11/4/2020), direncanakan begitu mendadak. Blontank Poer, sahabat Didi Kempot menghubungi Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV pada Kamis (9/4/2020), mewakili Didi Kempot menyampaikan niat Didi Kempot untuk menggelar konser amal tersebut. Dengan persiapan yang mendadak, disettinglah acara itu untuk disiarkan langsung #darirumah Didi Kempot di Solo. Dan disepakatilah waktunya pada tanggal 11 April itu. Meski begitu mendadak, namun konser amal itu berhasil mengumpulkan sumbangan Rp7,6 M lebih. Dalam waktu 3 jam terkumpul Rp5 M, kemudian diperpanjang 1 jam dan ternyata mencapai Rp7,6 M. Karena merasa konsernya #darirumah itu cuku...

Sekali Berarti Sesudah itu Mati

Didi Kempot berkolaborasi dengan Ardha Krisna Pratama di konser amal bertajuk #darirumah untuk penggalangan dana untuk warga terdampak Covid-19 di Kompas TV Penyair Chairil Anwar sepertinya sudah mendapat firasat kalau tak akan berumur panjang. Karenanya, dalam puisinya berjudul  ’Maju’  ia menulis ”sekali berarti sesudah itu mati.” Frase itu sangat terkenal sehingga diartikan sebagai tabir pelindung bagi Chairil Anwar terhadap firasat kematiannya. Judul tulisan ini saya pinjam dari bait kedua puisi ”Si Binatang Jalang” Chairil Anwar itu. Puisi itu ia ciptakan sebagai pengobar semangat para pejuang kemerdekaan mengusir penjajah dari Tanah Air. Tetapi, relevansi puisi di era perjuangan itu tetap terasa hingga di era post truth sekarang ini. Soe Hok Gie pernah bilang, ”Seorang filsuf Yunani pernah menulis; nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah yang berumur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah merek...

Di Lepau itu Cinta Jadi Misteri

LEPAU ~ tipikal rumah panggung yang memiliki lepau (beranda) panjang, banyak ditemukan di perdesaan atau wilayah pesisir Pulau Sumatera (Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan)  sumber gambar  : romadecade.org Cerpen Oleh: Zabidi Yakub Di lepau rumah panggung itu, dengan desah napas yang panjang, kamu berujar:  ” Indonesia memang luas. ”  ”Oh, tentu,” jawabku kala itu. Kamu yang lahir dan besar di Bantul, kota kecil bagian selatan Yogyakarta. Aku tahu tentang kotamu itu, setidaknya tentang makanan khasnya, geplak . Yang rasa manisnya nyelekit , yang karena ada campuran kelapa, jadinya tidak tahan lama, tapi banyak juga yang menjadikannya sebagai oleh-oleh bagi sanak famili di rumah bila habis berkunjung ke Yogya. Walaupun toh sesampai di rumah saat dimakan akan terasa sedikit tengik, ujungnya ya habis juga karena justru di situlah letak khasnya. Aku tahu makna desah napasmu yang panjang kala itu, karena tak pernah tebersit di pikiranmu kalau akhirn...