Langsung ke konten utama

Koran Besar pun Terimbas Korona


Kamis, 23 Juli 2020, saya beli koran Kompas di Jalan Malioboro. Kok tipis? Saya lalu tanya ke pengecer koran yang duduk di bangku sebelah tumpukan koran yang ia ecerkan, yang memang tidak banyak. Hanya beberapa eksemplar terdiri dari Kedaulatan Rakyat, Radar Jogja, Republika, Jawa Pos, dan Kompas. ”Memang segini, ya? Biasanya tebal?,” tanya saya menyadari kok koran itu tipis, tidak seperti biasanya. ”Memang segitu, sudah lama, sejak ada korona ini,” jawabnya. 

Duh, Gusti. Koran sebesar Kompas, tinggal 16 halaman. 

Saya bawa koran ke tempat duduk semula, di dekat penjual Lumpia Samijaya. Sambil ngopi dan ngemil lumpia di situ, saya celingak-celinguk memastikan kalau ada pengecer koran lewat. Selalu begitu saya. Tak bisa lepas dari bacaan. Di dalam tas yang selalu terselempang di pundak, mesti ada paling tidak satu buah buku ikut serta. Gunanya untuk teman jenuh, terutama ketika sedang menunggu sesuatu. Misalnya sedang mengurus sesuatu, seperti bayar pajak kendaraan di Samsat.
 

Tanggal 23 Juli itu bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional. Kompas edisi hari itu menyajikan headline tentang hari anak tersebut dengan judul ”WARNAI DUNIA ANAK” dengan tulisan berwarna putih dengan latar warna biru laut. Sementara foto di halaman muka berupa ilustrasi karya Wahyu ”Pinot” Ichwandardi, animator kelahiran Surabaya jebolan DKV FSRD ITB, yang kini berkarier di New York, Amerika Serikat. 

Ilustrasi Pinot di halaman depan Kompas edisi Hari Anak Nasional itu sengaja ditampilkan berwarna hitam putih, agar anak-anak Indonesia mewarnainya sendiri. Gambar-gambar dalam ilustrasi itu berupa beraneka mainan anak-anak jaman dulu (jadul), seperti ketapel, mobil-mobilan dari kulit Jeruk Bali, kelereng, gundu, gasing, yoyo, balok lego, robot, game watch atau game boy, ular tangga, sampai menyusun balok warna.


Klangenan yang Hampir Hilang

Senin, 26 Juli 2020, saya membeli Kompas edisi Sabtu (24/7) dan Minggu (25/7) di Intisari Agency. Biasanya, kalau tidak di Gramedia Radin Inten atau di Gramedia Mal Bumi Kedaton (MBK), ya di Intisari Agency itulah saya memburu Kompas edisi akhir pekan itu. Adakalanya membeli di kios koran dekat SD Palapa Jalan Ahmad Yani atau di seberang Bambu Kuning Square Jalan Imam Bonjol. Hanya dua kios koran itulah yang masih eksis. Selebihnya sudah ’mati angin’. 


Ada artikel atau rubrik klangenan yang senantiasa saya pantengin di Kompas Sabtu atau Minggu. Sejak lama kebiasaan itu saya lakukan. Bahkan pernah berlangganan Republika edisi Jumat dan Ahad dan Kompas Sabtu dan Minggu, sama pengecer koran di depan Mini Market Gedung Meneng. Namanya Dahlan, sekarang entah di manakah beliau? Republika Jumat karena ada sisipan Dialog Jumat dan Republika Ahad ada sisispan Islam Digest. Kompas Minggu selalu menantang saya untuk mengisi teka-teki silangnya dan ada halaman sastra (puisi dan cerpen). 

Sabtu, 1 Agustus 2020, saya ke Gramedia Radin Inten melewati Jalan Imam Bonjol. Sampai di depan Bambu Kuning Square saya melirik ke arah kios koran untuk memastikan apakah Kompas sudah terbit pasca-libur Idul Adha. Sepertinya mata saya tidak menangkap sosok Kompas ikut terpajang di sela-sela koran lokal yang terbit di Lampung. Saya terus saja melajukan kendara ke arah Jalan Kotaraja dan melewati depan Bandarlampung Mal. Tujuan memang hendak ke Gramedia Jalan Radin Inten, karean ada buku yang harus dibeli istri saya untuk panduannya mengajar siswa belajar daring dari rumah.  

Sampai di Gramedia, saat akan naik ke lantai 2 kembali saya melirik ke arah kasir di samping tangga. Biasanya ada koran Kompas terpajang di dalam file holder. Kok nggak ada. Bingung tapi nggak mau nanya. Karena ada buku yang tidak ditemukan di Gramedia Radin Inten, saya dan istri meluncur ke Gramedia MBK. Karena di file holder di meja kasir cuman ada koran The Jakarta Post dan Tabloid Kontan, tanpa ada Kompas. Saya pun bertanya ke kasir, ”Kompas nggak terbit, ya?” Jawabannya mengagetkan saya. ”Sekarang Kompas sudah nggak masuk Sumatra, Pak. Cuma di Jawa aja.” ”Oh, ya!,” timpal saya sambil mendesah dalam hati... ”Wah, bakal ada klangenan yang hilang nih!”



Kalau benar apa yang dikatakan kasir Gramedia di MBK itu, tentunya foto Kompas edisi Sabtu (24/7/2020) dan Minggu (25/7/2020) di atas akan menjadi kenang-kenangan terakhir membeli Kompas di Lampung. Tetapi, rasanya saya tidak percaya Kompas tidak masuk Sumatra lagi. Dan benar saja, pada pekan-pekan berikutnya Kompas masih beredar di lampung. Saya pun bisa kembali rutin beli edisi akhir pekannya. Edisi khusus HUT ke-75 Kemerdekaan RI pun bisa mengoleksinya. Ah... hampir saja ada klangenan yang hilang. Untung saja cuman hampir, bukan hilang beneran. Kalau hilang beneran kan berabe tenan!

Imbas Coronavirus Disease

Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) yang melanda dunia telah merontokkan ketahanan ekonomi. Jangankan pengusaha ekonomi golongan lemah (pegel), pengusaha ekonomi kelas kakap pun tak kuasa menahan imbas Covid-19. Tak terbayang usaha penerbitan media cetak sekelas Kompas pun yang tadinya menyuguhkan hingga 32 halaman bahkan lebih, akhirnya menyusut hingga 16 halaman dan mungkin tirasnya pun sudah jauh menyusut dari biasanya (ratusan ribu eksemplar). 

Memang, dampak pandemi Covid-19, orang boro-boro mau beli dan baca koran, wong untuk beli sebungkus nasi penghilang rasa lapar saja kesusahan. Akhirnya, membaca koran menjadi kebutuhan yang tidak begitu dibutuhkan di tengah pandemi. Orang lebih butuh untuk bagaimana caranya bisa bertahan dari menderita sakit karena kekurangan bahan makanan. Sekadar ada beras dan bahan lauk seadanya pun sudah cukup, boro-boro ada embel-embel kecukupan gizi. 

Sekadar ada makanan, terlepas bergizi atau tidak, itu sudah cukup bagi masyarakat lapiasan bawah. Jauh tangih mereka akan bisa menjaga imunitas tubuh dengan menambahkan asupan multivitamin. Untuk memenuhi sekadar ada makanan itulah yang jadi problema di tengah pandemi, yang mengharuskan semua orang tetap di rumah saja. Bagi para pelaku pegel, diam di rumah saja itu sama dengan tidak boleh mengais rezeki dengan mengasongkan barang dagangan. 

Imbas Coronavirus Disease tidak saja membuat perekonomian terpuruk. Tetapi, juga telah memorakporandakan tatanan hidup. Dalam bersosialisasi, orang dibatasi social distancing dan physical distancing. Itu teorinya, faktanya di mal dan pasar tradisional, kerumunan orang seperti tak ada batasan apa-apa. Masih ada segelintir orang yang mengabaikan protokol kesehatan, sekadar mengenakan masker saja sudah tak ada patuh-patuhnya acan

Yo, wes. Karepmulah. Arep urip ta matek, karepmu!!!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...